Perang Minyak dan Fragile Economy

Bursa Amerika ditutup melemah dua hari terakhir, hal ini tercermin dari indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow yang pada penutupan semalam masing-masing turun 0.24%; 0.07%; 0.15%. Pelemahan ini masih di dorong oleh menurunnya saham saham sektor energi yang ikut terseret bersama terjunnya harga minyak dunia. Pada perdagangan kemarin, harga minyak WTI ditutup di harga $44.89 per barel, terendah sejak Juli 2009.

Kapan harga minyak akan rebound?
Mencermati penyataaan raja Alwaleed bin Talal dari laman marketwatch.com sepertinya harga minyak belum akan rebound dalam waktu dekat. “If supply stays where it is, and demand remains weak, you better believe [the price of oil] is gonna go down more. But if some supply is taken off the market, and there’s some growth in demand, prices may go up. But I’m sure we’re never going to see $100 anymore,” said Prince Alwaleed bin Talal, the billionaire Saudi businessman”
Tak hanya itu, sang raja minyak ini juga sepertinya belum mau untuk mengurangi produksi, hal ini bisa kita cermati dari kalimat ini “’[H]ad Saudi Arabia cut its production by 1 or 2 million barrels, that 1 or 2 million would have been produced by others.’.
Prince Alwaleed percaya bahwa memangkas produksi tidak akan bisa menurunkan harga minyak dunia karena jika negara OPEC menurunkan produksi, maka akan ada negara lain yang memproduksinya, sehingga supply akan tetap sama.
Perang minyak sepertinya masih akan berlanjut tahun ini. Di satu sisi, OPEC tidak mau menurunkan produksi karena dibayangi ancaman market share yang akan tergerus. Di sisi lain, Amerika yang terus mencari alternatif agar bisa memanfaatkan perusahaan local untuk mengurangi dominasi OPEC. Hal ini bisa kita cermati dari gambar di bawah ini dimana produksi Shale Oil Amerika terus meningkat yang ditenggarai menjadi ancaman bagi market share OPEC.

Dengan strategi mempertahankan market share, bukan tidak mungkin OPEC tetap tidak akan memangkas produksi, sehingga jika harga minyak dunia tetap berada di teritori bawah (rata-rata $70 per barel) periode satu tahun, maka perusahaan Shale Oil Amerika yang selama ini menjadi menyangga kebutuhan minyak domestik akan banyak yang gulung tikar. Finallya OPEC tetap akan mempertahankan market share mereka dan tentu saja profit yang besar, konsekuensi dari peningkatan harga minyak dunia akibat dari supply Shale Oil Amerika yang menurun. Berikut gambar estimasi biaya break even point beberapa perusahaan minyak di Amerika.

Apa yang terjadi jika harga minyak terus turun?
Mengutip tulisan Michael Snyder dari laman theeconomiccollapseblog.com tentang Boom Goes the Dynamite: The crashing price of oil is going to rip the global economy to shreds, menjelaskan “And the longer the price of oil stays this low, the worse our problems are going to get. At a price of less than $50 a barrel, it is just a matter of time before we see a huge wave of energy company bankruptcies, massive job losses, a junk bond crash followed by a stock market crash, and a crisis in commodity derivatives unlike anything that we have ever seen before. So let’s hope that a very unlikely miracle happens and the price of oil rebounds substantially in the months ahead. Because if not, the price of oil is going to absolutely rip the global economy to shreds.”

Jika harga minyak terus menurun, dan berada di bawah $50 per barel, sepertinya kita sedang menunggu banyak perusahaan energy akan bangrut, dan tentu saja akan diikuti oleh multiplier effect lainnya.
Apa yang bisa negara lakukan?
Seharusnya jika kita sudah sepakat untuk menjadi masyarakat global dimana satu negara tidak bisa bertahan tanpa negara-negara lain, hendaknya sekat-sekat yang bisa saling menjatuhkan harus terus dikikis. Kata-kata yang ditulis oleh Ekonom Prancis Thomas Piketty dalam bukunya Capital in the Twenty-First Century yang saya kutip di laman kontan.com dari tulisan seorang pengamat perlu kita renungkan bahwa “”Ketimpangan tidak dihasilkan dari kekuatan alam atau pilihan individu, tetapi dari kurangnya intervensi pemerintah”. Termasuk intervensi pemerintah masing-masing negara untuk menjaga stabilitas ekonomi global. Ini penting karena kita sepertinya sedang berada di zona fragile economy yang membutuhkan level kerjasama internasional dengan tingkat integritas yang tinggi.
Apa yang masyarakat harapkan?
Penurunan kembali harga BBM secepatnya seiring dengan penurunan harga minyak dunia. Aamiin.
Apa yang bisa kita lakukan?
Menghindari instrumen investasi yang mempunyai hubungan positif dengan harga minyak dan mungkin kita bisa membeli saham-saham yang diuntungkan dengan penurunan harga minyak saat ini. Ayo tebak, saham apa saja?🙂

PT. BNI Securities Palembang
January 14, 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s