Waiting

when I had no idea to write but has an obligation to write, I typed about this🙂

Semalam membaca berita di laman businessinsider.co.id tentang OPEC declare war on the US gas shale industry, jika berita ini benar berarti multiplier efek mungkin akan sampai dalam waktu dekat. Pertanyaan berikutnya adalah kenapa OPEC mau meningkatkan produksi, padahal harga minyak dunia masih di teritori bawah. Bahkan beberapa analyst memprediksi jika harga minyak tidak keluar dari $60 per barel hingga akhir tahun ini, banyak perusahaan shale oil di US akan gulung tikar, dan tentu saja efek domina yang lain dari peristiwa ini akan menciptakan fenomena ekonomi yang mungkin saja tidak disukai banyak orang.

BEP shale-oil-price

Mau mulai dari mana?

Bingung…..!

Mari kita mulai dari Rusia. Negara beruang putih yang menjadi pengekspor energi terbesar di dunia mengalami resesi, produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi, alias minus 1,9 persen secara tahunan. Dibandingkan kwartal tahun lalu, PDB Rusia masih tumbuh 0,4 persen. Cadangan devisa tergerus untuk menghalau depresiasi nilai rubel terhadap US Dollar yang jatuh 30 persen hanya dalam kurun waktu 52 minggu.

Dari Rusia mari kita ke China dan US

Setelah mengetahui realisasi PDB China yang tumbuh di bawah ekspektasi, negeri tirai bambu hanya mencatat pertumbuhan ekonomi di angka 7 persen dan pemerintah sepakat hanya mentargetkan pertumbuhan ekonomi 7 persen tahun ini, target tersebut terendah dalam 11 tahun terakhir. Pelemahan ekonomi di China, tentu akan memberi dampak terhadap negara partner dagang, termasuk Indonesia yang selama ini menjadikan negeri tirai bambu menjadi tujuan dagang terbesar, diikuti Amerika dan Jepang.

Bagaimana US?

Sebenarnya dunia “berharap” ekonomi US akan segera membaik pasca krisis 2008 dan menjadi penyeimbang ekonomi negara lain seperti China, Jepang, Rusia, dan negara-negara lain yang sedang dilanda kelesuan ekonomi, bahkan sedang sakit seperti Yunani. Ada analyst berhipotesa bahwa US akan segera menaikkan suku bunga acuan sebagai salah satu wujud nyata katalis positif ekonomi paman sam, tapi sampai hari ini berita itu masih belum terealisasi.

Indonesia?

Indonesia akan tetap dengan caranya sendiri, mencari keseimbangan antara pelemahan harga minyak dunia. Di satu sisi, memberi dampak positif karena turunya biaya subsidi. Tapi di sisi lain, industri tambang yang selama ini menjadi penyumbang pendapatan terbesar negara, ikut lesu sebagai bentuk kompensasi atas lemahnya harga minya dunia. Efek domino dari melemahnya ekonomi China juga sudah terasa dan terefleksi dari angka pertumbuhan ekonomi kwartal pertama di angka 4,7 persen di bawah target pemerintah dan konsensus analis 5,7 persen dan 4,9 persen.

*

Sejak Nassim N Taleb dalam bukunya The Black Swan mengungkapkan bahwa logic makes what you don’t know far more relevant than what you do know sepertinya memberi ruang bagi kita yang tidak paham ekonomi untuk berani meramal pertumbuhan ekonomi. Hari ini, karena acaknya, unpredictable-nya pergerakan sesuatu yang sudah terkait satu sama lain – termasuk ekonomi- maka rasanya setiap orang bisa berdebat tentang apapun, kapanpun dan dimanapun, dengan kemungkinan benar dan salah sama besarnya antara orang yang paham dengan topik dan tak paham sama sekali🙂

Kantor BPK Wilayah Palembang, edisi jaga stan🙂

19 Mei 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s