What Drives the Indonesian Stock Market?

Bursa Efek dibuka kembali pada 10 Agustus 1977 ditandai dengan go publik PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama. Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) merupakan perusahaan pertama yang mengeluarkan sistem pembagian saham yang didirikan tanggal 20 Maret 1602 Setelah itu pasar modal terus berkembang di seluruh dunia. Menurut Sanjeev Sanyal, a global strategist with Deutsche Bank, total kapitalisasi pasar global diperkirakan 378 persen dibandingkan total GDP dunia.

Bursa Indonesia mulai berkembang tahun 1983, waktu itu indeks ditetapkan dengan nilai dasar 100 dan saham tercatat pada saat itu berjumlah 13 saham. Hari ini per 29 Desember 2015, 32 tahun setelah pasar modal Indonesia jumlah saham yang tercatat sebanyak 525 emiten atau tumbuh lebih dari 3000 kali.

Pertumbuhan jumlah emiten yang terdaftar di BEI memang meningkat signifikan, tetapi jumlah investor yang terlibat di pasar modal relatif masih sedikit. Memang literasi keuangan masyarakat masih rendah, khususnya pasar modal di Indonesia. Menurut Kepala Pengawas Pasar Modal II OJK, Fahri Hilmi, saat ini jumlah investor yang tahu tentang pasar modal di bawah 4 persen dari total penduduk, yang investasi masih lebih rendah lagi. Data pusatis per Mei 2015, jumlah investor lokal hanya 488.248 atau kurang dari 1 persen penduduk Indonesia. Padahal rasio jumlah investor terhadap jumlah penduduk rata-rata di negara ASEAN sudah menyentuh level 30 persen. Kita masih tertinggal jauh.

Saat jumlah saham yang tercatat di BEI masih sedikit, mungkin relatif lebih mudah bagi kita untuk melihat faktor-faktor yang menyebabkan harga saham berubah. Tapi ketika jumlah perusahaan yang terdaftar dan kapitalisasi pasar terus berkembang, serta didorong dengan perkembangan teknologi. Tentu faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham juga terus berubah.

Dulu mungkin kita hanya mengkaitkan pergerakan harga saham dengan melihat faktor fundamental perusahaan tapi hari ini kita juga seperti didorong untuk melihat pengaruh investor asing, apalagi kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), per Februari 2015 asing menguasai 64,3 persen saham publik di Indonesia, meningkat dibandingkan tahun 2012 sebesar 58,7 persen.

Faktor lain diluar fundamental perusahaan dan kepemilikan asing seperti behavioral finance mungkin harus dijadikan pertimbangan untuk pengambilan keputusan investasi, khususnya di pasar modal. Hhmm Jadi kepikiran dan penasaran untuk meneliti tentang sebenarnya faktor apa yang menjadi trigger utama penggerak harga saham dari tahun ke tahun. Apakah masih di dominasi oleh fundamental perusahaan,  kepemilikan investor asing, atau justru sudah berubah ke behavioral finance.

Semoga diberi kesempatan agar bisa menjawab pertanyaan ini dalam bentuk karya ilmiah.

Semoga dalam penulisannya nanti bisa dilakukan di negara yang memperkenalkan pasar modal pertama kali di dunia.

Semoga hasil tulisannya nanti bermanfaat untuk masyarakat Indonesia sehingga mereka tertarik untuk memulai investasi.

Aamiin Ya Robbal ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s