Supply dan Demand Pelaku Kejahatan

Makan malam ini terganggu, meskipun lauknya sangat enak (udang pedas manis) karena pemberitaan di TV semakin hari sepertinya semakin di luar batas wajar manusia normal. Mulai dari meninggalnya mahasiswi universitas negeri di Jogya, Pembunuhan yang dilakukan mahasiswa terhadap dosen di Medan, Penyelundupan narkoba, operasi tangkap tangan (OTT) pejabat oleh KPK, hingga peristiwa yang paling tidak logis dilakukan oleh manusia, yaitu pemerkosaan terhadap siswi 14 tahun yang dilakukan oleh 14 remaja (kalau mereka masih layak disebut manusia) yang terjadi di Bengkulu menyebabkan korban meninggal. Belum hilang rasa marah kita terhadap pelaku pemerkosaan di Bengkulu, kita dikejutkan lagi dengan kejadian pemerkosaan dan pembunuhan dengan cara yang sangat kejam terjadi di Jatimulya kabupaten Tanggerang dengan korban gadis 18 tahun, Enno Fahira dan pelaku utamanya adalah pelajar SMP berusia 15 tahun. Pelajar SMP!

Siapa yang salah? (it’s not a good question, mari kita persempit ruang pertanyaan jenis ini dalam kamus hidup kita).

Mari kita ganti dengan, apa solusinya?

Bukannya pemerintah sudah memiliki payung hukum untuk semua tindak kejahatan yang terjadi. Lalu kenapa kejahatan yang menyebabkan korban kehilangan nyawa masih sering terjadi bahkan cara-cara yang dilakukan dalam tindak kejahatan tersebut seringkali melampaui imajinasi manusia. Apakah konsekuensi hukum saat ini belum memberi efek jera bagi para pelaku atau yang lebih menakutkan ketika konsekuensi hukum itu dipandang sebelah mata dan tidak membuat para pelaku kejahatan lain takut untuk mengulangi aksinya karena menilai dampak hukum yang diterima masih memberi mereka ruang untuk berbuat lagi. Misalnya, pemerkosaan di Bengkulu yang menyebabkan nyawa korban tidak bisa diselamatkan. Semua pelaku rata-rata remaja di bawah usia 20 tahun, anggap saja usia mereka 20 tahun dan karena perbuatannya tersebut mereka dihukum seumur hidup. Berarti mereka akan bebas di usia 40 tahun, setelah mereka dengan sadar melakukan pemerkosaan dan pembunuhan.

Pertanyaan berikutnya kenapa orang berani melakukan kejahatan secara sadar yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang?

Mungkin karena mereka dengan sadar dan logis dapat berhitung tentang konsekuensi hukum yang akan mereka terima. Mereka bisa menggunakan faktor pengkalian sederhana untuk menghitung masa tahanan yang akan mereka jalani ketika mereka melakukan kejahatan tersebut. Lihatnya aksi dan konsekuensi para koruptor selama ini.

Di negeri dongeng ini, seringkali politik dan ekonomi belum bisa berkolaborasi dengan baik. Politikus memiliki banyak argumen dan pertimbangan untuk meloloskan undang-undang yang kadangkala mengabaikan aspek insentif pada dunia nyata. Ekonom juga harus mafhun bahwa tidak semua fenomena bisa dibuat ke dalam modelisasi matematis. Memang kita sedang dan terus mencari keseimbangan, tapi untuk pelaku kejahatan yang berdampak sistemik saya lebih tertarik dengan pendekatan ekonomi. Misalnya kejahatan narkoba, pembunuhan dan koruptor.

Tentu kita masih ingat sidak langsung yang dilakukan oleh menteri hukum dan ham di acara Mata Najwa, hampir setiap rutan yang dikunjungi ditemukan narkoba. Ketidaklogisan berikutnya, bagaimana bisa tempat yang seharusnya dijadikan ruang untuk rehabilitasi (proses penyembuhan) pengguna obat-obat terlarang malah dijadikan tempat mengkonsumsi barang-barang tersebut. Kita juga tidak lupa dengan seorang narapidana kasus narkoba yang diketahui tetap mengendalikan bisnis haramnya dari dalam jeruji besi. How come?

Mungkin selama ini energi kita terlalu banyak tercurah pada pengedar dan pemberi suap, bukan pengguna narkoba dan penerima suap. Faktanya aparat memberi hukuman lebih berat kepada pengedar narkoba, artinya kita telah menutup atau menghambat supply dan bisa menyebabkan kelangkaan atas barang tersebut. Dengan kata lain supply barang berkurang. Jika supply barang berkurang sedangkan permintaan atas barang tersebut tetap, maka harga akan naik, dan ini justru menarik bagi para pengedar baru untuk masuk ke dalam pasar tersebut dengan bayangan insentif yang lebih besar. Jika kita memang ingin mengurangi jumlah pengedar, mungkin kita harus menghukum orang-orang yang menciptakan permintaan (pengguna narkoba) dengan hukuman yang bisa memberi efek jera. Karena jika supply terhadap barang tetap, sementara demand atas barang tersebut berkurang, maka harga akan turun. Harga turun akan mengurangi insentif yang diterima olah para pengedar, dan akhirnya akan menurunkan pendapatan mereka. Pendapatan menurun menyebabkan bisnis ini jadi tidak menarik lagi. Sehingga satu persatu pengedar mungkin akan beralih ke profesi-profesi yang lebih menguntungkan.

Sama halnya dengan kasus Yuyun di Bengkulu dan Enno Fahira di Jatimulya. Aparat harus berani memberi hukuman yang adil bagi para pelaku. Hal ini penting untuk memberi efek jera bahkan rasa takut bagi siapa saja yang terfikir untuk melakukan kejahatan. Kalau tidak, kita seperti sedang menunggu berita serupa di lain waktu.

May 17, 2016 at Unsri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s