Kedamaian, Impian dan Orang Baik

“Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” (Al-Ma’idah 100)

Alhamdulillah hari ini diberi kesempatan berkunjung lagi ke kampus Fakultas Ekonomi (FE) Unsri Indralaya dalam rangka menemani adik yudisium. Dari segi sarana dan prasarana, FE Unsri sudah banyak mengalami perubahan. Mulai dari pembangunan gedung-gedung baru hingga berdirinya beberapa gazebo di sekitar lingkungan fakultas yang dilengkapi dengan wifi. Saya juga sempatkan diri berkunjung ke perpustakaan utama, dan ternyata perubahan yang terjadi di perpus jauh lebih mengejutkan daripada yang terjadi di FE. Di bagian lobi lantai dasar perpustakaan sudah sangat rapi dan tersedia satu ruangan besar yang bisa digunakan mahasiswa untuk mengakses internet secara gratis, juga ada meja untuk diskusi plus satu TV dan DVD player.

Lobi Perpustakaan Unsri Indralaya

Berkunjung ke kampus yang berjarak 32 km dari kota Palembang ini selalu memberi nuansa baru. Saya masih bisa merasakan atmosfir semangat belajar disini, menemukan kedamaian di ruang sunyi perpustakaan, diskusi bersama teman dan dosen tentang ekonomi dan kehidupan, berorganisasi, dan atau hanya sekedar berjalan mengelilingi lingkungan kampus nan asri. Dalam ketenangan itu, saya merasa menemukan momen terbaik untuk melakukan evaluasi sekaligus menulis mimpi-mimpi baru. Oleh karena itu, ketika menempuh pendidikan S1 disini, saya menulis beberapa impian yang ingin saya perjuangkan dalam hidup. Impian yang dahulu terlihat sulit, bahkan sangat sulit unuk digapai. Alhamdulillah kini beberapa sudah bisa diraih. Ketika ada kesempatan berkunjung ke kampus pada bulan Februari 2014 lalu, saya sempatkan menulis impian (kembali) untuk melanjutkan pendidikan jenjang master. Alhamdulillah saat saya berkunjung lagi ke FE Unsri hari ini, impian untuk menyelesaikan pendidikan tersebut sudah bisa diraih.

Impian (lagi), Ikhtiyar dan Do’a lagi

Hari ini 24 Mei 2017 di lobi perpustakaan utama Unsri Indralaya, saya menulis kembali tentang cita-cita yang belum terpikir untuk ditulis 10 tahun lalu yaitu melanjutkan pendidikan (lagi). Jujur waktu menempuh pendidikan S1, tidak pernah terbersit sedikitpun untuk mengambil langkah ini. Apalagi dalam proses perkuliahan saya masih sering kesulitan menangkap materi yang disampaikan dosen dengan baik. Jadi intinya saya sadar diri, konsekuensinya saya buat cita-cita yang bisa digapai oleh imajinasi saja waktu itu.  Ternyata imajinasi kita itu dinamis, tidak statis. Jadi kapanpun bisa berubah. Perubahan itu terjadi setelah saya diberi kesempatan untuk bekerja di beberapa perusahaan, diskusi dengan banyak orang tentang karir, kehidupan, dan takdir, akhirnya saya memutuskan bahwa melanjutkan belajar insha Allah akan menjadi jalan yang terbaik.

Jika diberi kesempatan, Insha Allah saya akan berkunjung lagi ke FE Unsri Indralaya tahun 2023 dengan sudah menggapai impian yang saya tulis hari ini yaitu melanjutkan pendidikan doktoral (kalau bisa di luar negeri). Kenapa harus di luar negeri? karena belajar di luar negeri juga bagian dari impian (yang belum terwujud), yang saya tulis setelah selesai upacara 17 Agustus di Lapangan Tikala kota Manado tahun 2010 lalu. Jika saya sudah berani menulisnya, berarti saya tahu konsekuensinya dan semoga saya bisa mewujudkannya. Aamiin YRA.

Bertemu Orang Baik

Sekitar jam 12.10 ada panggilan masuk dari Bapak, berarti acara yudisium sudah selesai dan kami harus pulang. Sebelum menuju Palembang, kami singgah di rumah makan pagi sore Indralaya. Selesai makan, kami sholat di mushola di samping rumah makan. Hampir semua tas kami bawa turun karena saya tidak mau kejadian setahun lalu terulang lagi. Meninggalkan tas di dalam mobil dan ternyata begitu saya kembali ke mobil, kaca mobil bagian belakang pecah dan tas saya ikut raib. Saya membawa tas turun untuk mengantisipasi agar tidak hilang tapi ketika saya membawa tas ke mushola, ternyata tas tersebut lupa saya bawa kembali saat pulang ke Palembang. Beruntung tas itu ditemukan oleh orang baik. Orang baik itu adalah ustaz Hidayat. Jadi saya tidak harus mengalami kehilangan tas untuk yang keempat kalinya.

Bersama Ustaz Hidayat

Di dalam tas ada lapop dan HP. Mungkin beliau melihat contact di HP tersebut dan mencari nama keluarga. Akhirnya beliau menghubungi kontak dengan nama ayah. Yup, saya menulis nama kontak mertua laki-laki dengan nama ayah. Jadi ustaz Hidayat menghubungi mertua saya, kemudian mertua menghubungi istri saya (yang kebetulan tidak ikut ke indralaya). Lalu, istri saya menghubungi ke HP saya yang lain. Alhasil, kami harus kembali lagi ke rumah makan pagi sore di Indralaya.

Ada beberapa hikmah yang bisa saya dapatkan dari perjalanan ke Indarlaya hari ini, antara lain:

  1. Visi besar orang tua. Kami menghadiri yudisium Agil, anggota keluarga kami yang paling kecil. Alhamdulillah, impian bapak untuk menguliahkan semua anak-anaknya sudah tercapai. Meskipun berat dan penuh pengorbanan. Allahuakbar.
  2. Selain masjid, rumah dan alam bebas, kampus adalah tempat yang damai dan menenangkan.
  3. Belajar untuk lebih hati-hati. Khususnya menjaga barang-barang yang saya bawa.
  4. Saya sudah menulis impian untuk melanjutkan study, artinya segala tindakan dan perbuatan saya insha Allah harus bermuara atau mendekatkan diri dengan cita-cita tersebut. Mungkin jalan ini bisa jadi panjang dan melelahkan tapi inilah yang dilakukan Bapak, ketika beliau bermimpi untuk menguliahkan anak-anaknya hingga lulus sarjana dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Intinya Bapak dan Mamak melakukan banyak pengorbanan untuk memastikan agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik.

Perpustakaan Unsri Indralaya

24 Mei 2017.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s