Shanum: Portofolio Kehidupan

Salah satu tugas terpenting seorang manajer investasi adalah mampu meramu portofolio investasi yang baik. Baik dalam arti bisa menghasilkan return yang maksimal dengan mempertimbangkan semua risiko yang ada. Tahun lalu, saat masih bekerja sebagai broker saham saya memiliki kesempatan untuk bertemu, diskusi dan belajar langsung tentang tugas dan tanggung jawab klien sebagai seorang manajer investasi. Dari beberapa job desk yang ada, yang paling penting dan yang paling sering mereka sharing adalah bagaimana mereka bisa menghasilkan return 9% dari dana yang mereka kelola. Jika saya bertanya pada orang tua yang berprofesi sebagai pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mencari keuntungan 9% per tahun insha Allah bukanlah perkara yang sulit. Tapi jika mencari imbal hasil 9% dari dana kelolaan ratusan miliar atau bahkan triliunan bisa jadi perkara yang sangat kompleks. Apalagi dewasa ini, mereka juga harus mempertimbangkan semua risiko baik internal dan risiko eksternal. Para pelaku pasar juga paham, bahwa dunia sudah semakin mengelobal. Konsekuensinya jika satu negara ada yang sakit, kemungkinan negara yang memiliki hubungan baik langsung maupun tidak langsung juga akan terkena dampaknya.

Krisis Amerika tahun 2007/2008 menjadi contoh nyata bagaimana dampak menular (contigious effect) itu ada. Waktu itu, sumber krisis berasal dari Amerika, tapi hampir seluruh dunia ikut terkena imbasnya. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menjadi acuan bagi pelaku indsutri pasar modal di Indonesia terjun bebas selama periode krisis subprime mortgage. Bagaimana negara lain? Tak perlu ditanya, sama saja. Mereka semua demam.

Kondisi Pasar Saham 5 Negara ASEAN

Lalu bagaimana agar bisa achieve target jika kondisi eksternal sangat mempengaruhi kinerja perusahaan bahkan individu?

Saya rasa jawaban itu akan sangat subjektif dan sulit dipastikan akurasi kebenarannya. Tapi saya suka dengan kata-kata CEO General Electrik (GE) Indonesia- Bang Handry Satriago- bahwa profesional yang sukses adalah mereka yang bisa deliver goals in uncertain situation. Mereka yang bisa melakukan itu juga bukan Tuhan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti untuk belajar. Kalau gagal, bangun lagi, belajar lagi, coba lagi. Istilah kerennya failing forward.

Portofolio Kehidupan

Jika dulu krisis adalah suatu hal yang tidak normal, maka hari ini krisis sepertinya sudah menjadi normalitas baru. Bahkan akhir-akhir ini pelaku ekonomi mengenal istilah Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity (VUCA) satu istilah baru yang biasa digunakan oleh tentara Amerika yang menggambarkan suatu kondisi medan perang yang tidak bisa diprediksi. Kalaupun bisa diprediksi, maka akurasinya sangat kecil. VUCA itu sekarang , tidak hanya populer di dunia militer tapi juga sudah terkenal di kelangan pelaku ekonomi, bahkan dampaknya bisa dirasakan oleh individu secara langsung. Kejadian kemarin, beberapa negara di kawasan timur tengah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Qatar hanya diberi waktu 2 minggu untuk menarik duta besar mereka termasuk warga negara Qatar yang bekerja di negara-negara yang memutuskan hubungan diplomatik tersebut. Individu-indivdu yang dipulangkan ke Qatar bisa jadi mereka adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang penyebab 5 negara arab memutuskan hubungan diplomatik. Bahkan ada siswa asal Dubai yang sekolah di Qatar terancam tidak bisa mengikuti ujian karena mereka harus pulang ke negara asal. Masyarakat yang tinggal di Qatar pun panik.

Saya juga ingat, dalam satu diskusi santai di ruang kelas dengan teman kuliah yang bekerja sebagai supervisor di perusahaan minyak. Dia dulu memiliki staf sebanyak 15 orang dan kini hanya sisa 3 orang (supevisor, sopir dan admin) akibat harga minyak mentah dunia yang turun drastis. Padahal mereka yang kena PHK itu bukanlah orang-orang yang menyebabkan harga minyak turun.

Jika hidup dengan situasi seperti ini, sepertinya hidup hari ini selalu diharapkan pada probabilitas 50:50. Artinya kemungkinan gagal dan berhasil itu sama besarnya. Makanya akan lebih baik jika terus berusaha dan juga ikhlas. Ikhlas dalam arti melakukan ikhtiar dengan maksimal dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Man Proposes and God Disposes. Ikhlas juga berarti kita harus bisa menerima apapun hasil dari usaha kita dengan lapang dada. Saya tidak bisa membayangkan jika kita memperlakukan keberhasilan dan kegagalan itu sama, artinya jika kita berhasil maka kita sangat bahagia dan sebaliknya sangat sedih atau bahkan depresi jika kita menghadapi kegagalan. Jika kita mengambil sikap seperti itu, maka setengah portofolio hidup kita akan diisi dengan kesedihan. Lalu bagaimana kita bisa manage portofolio hidup kita?

To be honest, saya tidak tahu. Tapi saya belajar dari Shanum tentang porfolio hidup. Saya melihat video Shanum (cukup sering) yang dikirim oleh istri. Kenapa saya tertarik untuk melihat setiap video Shanum cukup sering karena selain kangen, melihat Shanum juga bisa menenangkan. Alasan lainnya karna saya juga sering mendapatkan hikmah dari video tersebut. Salah satu video yang dikirm oleh istri seminggu lalu. Video itu berdurasi 62 detik yang memperlihatkan bagaimana Shanum menangis lalu tersenyum. Saya mencoba mengasosiasikan durasi waktu dalam video tersebut sebagai portofolio hidup, yang diisi dengan beberapa situasi seperti sedih dan bahagia. Dari total durasi video 62 detik, Shanum mengalokasikan waktu sekitar 14 detik bersedih dan setelahnya dia memilih untuk bangun dan tersenyum kembali. Dari Shanum saya bisa belajar bahwa alokasi portofolio kehidupan itu bisa dirumuskan dengan sangat sederhana yaitu (sedih : bahagia x durasi waktu). Protofolio hidup Shanum dalam konteks sedih dan bahagia dapat dihitung (14 : 62 x 100) = 22.5%. artinya dari probabilitas keberhasilan dan kegagalan hidup 50:50, Shanum memutuskan bahwa hanya mengalokasikan waktu kesedihan sebesar 22,5% dan 77,5% kebahagiaan.

Jika shanum yang baru barusia 6 bulan saja bisa membuat alokasi portofolio hidup seperti itu, apalagi kami yang sudah cukup mengalami asam garam kehidupan, sudah sewajarnya jika bisa men-treat kegagalan itu sebagai hal yang biasa dan selalu berprinsip boleh gagal, belajar lagi dan coba lagi. Never asking for easy dan semoga kita selalu bisa mengalokasikan kebahagiaan lebih besar dalam portofolio kehidupan kita. Aamiin YRA.

UIGM Palembang.

June 7, 2017.

Iklan