Ini adalah Permulaan..

Tulisan dari istri di hari yang penuh makna dan pembelajaran dalam hidup.

IMG-20170723-WA0001

Dear suamiku, imamku,

Hari ini, 14 september 2017 adalah kedua kalinya aku melihatmu menangis..

Hancur rasanya hatiku melihatnya..

Ingin rasanya aku ambil alih kesedihanmu dan aku simpan sendiri, namun aku hanya bisa memelukmu dan mengucapkan kalimat2 yang aku pikir bisa untuk menenangkanmu, sambil dlm hatiku berdoa agar Allah membantumu, hanya itu yg bisa aku lakukan..

Aku tau ini adalah keinginan terbesarmu saat ini, untuk kuliah lagi, agar nanti engkau bisa memperbaiki perekonomian kita dimasa depan..

Aku sangat bangga dengan impianmu itu, dengan semangatmu untuk mengubah masa depan kita, dengan ketekunanmu belajar dan belajar setiap hari, aku salut..

Bersabarlah suamiku, insha Allah Tuhan sudah menuliskan cerita indah dibalik cerita sedih hari ini..

Tetaplah berbaik sangka, dan tetaplah tegar dalam menghadapi cobaan Tuhan..

Ingatlah bahwa Tuhan tak tidur, dia selalu melihat usahamu, dan yakinlah suatu saat usahamu akan membuahkan hasil yg manis..

Aku, istrimu, akan selalu bersamamu, melewati masa-masa sulit disampingmu, mendukungmu, melindungimu dari dinginnya air mata..

Bersabarlah suamiku, ini bukanlah akhir dari perjuangan.. Ini adalah awal dimana Tuhan ingin melihat kesungguhanmu dalam meraih cita2..

Bersabarlah suamiku, percayalah suatu hari aku akan melihatmu berdiri di podium kehormatan untuk memberikan pidato kelulusan S3 disebuah universitas ternama di tanah eropa.. Percayalah..

I love u till Jannah, imamku..

 

Sent from my iPhone

Iklan

Bapak isn’t a Dreamer

Bapak

Bapak is certainly more than a dreamer, He is an achiever

Saya mengambil foto ini secara diam-diam. Foto saat kedua orang tua memegang dan mengamati ijazah Agil (anak bungsu di keluarga kami) cukup lama. Saya percaya, beliau tidak ingin membaca satu persatu kata yang ada di setiap kalimat di selembar kertas itu. Tapi saya seperti merasakan bahwa Bapak sedang berimajinasi jauh, jauh sekali hingga saat pertama kali beliau bermimpi untuk memberi kesempatan dan mengawal perjalanan anak-anaknya agar bisa lulus di perguruan tinggi. Bapak tidak hanya seorang pemimpi yang sangat tangguh, tapi beliau adalah achiever. He is a dreamer and an achiever with immense value of perseverance and persistence.

Impiannya untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi seakan tidak bisa digantikan dengan apapun. His dream is inviolable. Tentu komitmen itu memiliki beberapa konsekuensi baik bagi dirinya dan kehidupan keluarga. Jika foto itu bisa saya ekstrak, mungkin akan bisa menghasilkan beberapa cerita yang tidak bisa saya lupakan sampai detik ini, antara lain:

  1. Bapak sempat berprofesi sebagai penarik becak saat saya masih kecil demi mencukupi kehidupan keluarga
  2. Jendela rumah kami tidak terpasang selama 15 tahun karena Bapak harus memprioritaskan biaya pendidikan daripada memperbaiki rumah. Sempat ada beberapa teman kantor Bapak yang berbaik hati, menawarkan diri untuk menjadi donatur agar jendela rumah kami bisa dipasang, tapi Bapak tetap tidak mau.
  3. Haburger, Pizza dan KFC menjadi makanan mewah bagi keluarga kami di bawah tahun 2000an.
  4. Sebagai alat transportasi, Bapak menggunakan motor pespa dan kami dibelikan sepeda bekas untuk pergi kesekolah
  5. Saya masih ingat ketika keinginan untuk membeli sandal merk “Ando” harus di trade off dengan sandal merk “Zando” seharga Rp.2.500 untuk dipakai di hari raya idul fitri tahun 1995. Sampai hari ini, saya masih ingat dengan sandal yang terbuat dari bahan busa dengan corak dua warna biru muda dan putih. Tinggi sandal itu kurang lebih 3 cm dengan selang warna putih mengitari bagian penjepit antara jari jempol dan telunjuk. Saat sandal itu basah menjadi sangat licin sekali.
  6. Suatu hari tahun 2000, saat menyambut tahun ajaran baru di sekolah. Saya bersama Bapak pergi ke toko sepatu di pasar 16 ilir Palembang. Saya tertarik sepatu merk “Kasogi” tapi yang kami bawa pulang adalah sepatu “kungfu” warna hitam tanpa tali J
  7. 3 hari menjelang lebaran tahun 2002, saya pergi ke toko sepatu “Idaman” di Pasaraya Megaria Palembang. Saya ingin sekali membeli sandal gunung merk Neckermann tapi sekali lagi belum bisa terwujud. Di saat yang bersamaan, saya melihat orang membeli sepatu “Reebok” seharga Rp.450.000,- dan saya menganggap orang itu “aneh” karena mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah alas kaki. Saat ini, virus keanehan orang yang membeli sepatu “mahal” itu sudah menyerang saya, bahkan berkali-kali.

Tapi “inti sari” dari foto itu adalah inspirasi kami (saya) untuk terus bermimpi, belajar dan sekolah sampai ke jenjang formal yang paling tinggi (suatu hari nanti). Aamiin YRA.

Palembang; August 1, 2017.

Shanum: Portofolio Kehidupan

Salah satu tugas terpenting seorang manajer investasi adalah mampu meramu portofolio investasi yang baik. Baik dalam arti bisa menghasilkan return yang maksimal dengan mempertimbangkan semua risiko yang ada. Tahun lalu, saat masih bekerja sebagai broker saham saya memiliki kesempatan untuk bertemu, diskusi dan belajar langsung tentang tugas dan tanggung jawab klien sebagai seorang manajer investasi. Dari beberapa job desk yang ada, yang paling penting dan yang paling sering mereka sharing adalah bagaimana mereka bisa menghasilkan return 9% dari dana yang mereka kelola. Jika saya bertanya pada orang tua yang berprofesi sebagai pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mencari keuntungan 9% per tahun insha Allah bukanlah perkara yang sulit. Tapi jika mencari imbal hasil 9% dari dana kelolaan ratusan miliar atau bahkan triliunan bisa jadi perkara yang sangat kompleks. Apalagi dewasa ini, mereka juga harus mempertimbangkan semua risiko baik internal dan risiko eksternal. Para pelaku pasar juga paham, bahwa dunia sudah semakin mengelobal. Konsekuensinya jika satu negara ada yang sakit, kemungkinan negara yang memiliki hubungan baik langsung maupun tidak langsung juga akan terkena dampaknya.

Krisis Amerika tahun 2007/2008 menjadi contoh nyata bagaimana dampak menular (contigious effect) itu ada. Waktu itu, sumber krisis berasal dari Amerika, tapi hampir seluruh dunia ikut terkena imbasnya. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menjadi acuan bagi pelaku indsutri pasar modal di Indonesia terjun bebas selama periode krisis subprime mortgage. Bagaimana negara lain? Tak perlu ditanya, sama saja. Mereka semua demam.

Kondisi Pasar Saham 5 Negara ASEAN

Lalu bagaimana agar bisa achieve target jika kondisi eksternal sangat mempengaruhi kinerja perusahaan bahkan individu?

Saya rasa jawaban itu akan sangat subjektif dan sulit dipastikan akurasi kebenarannya. Tapi saya suka dengan kata-kata CEO General Electrik (GE) Indonesia- Bang Handry Satriago- bahwa profesional yang sukses adalah mereka yang bisa deliver goals in uncertain situation. Mereka yang bisa melakukan itu juga bukan Tuhan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti untuk belajar. Kalau gagal, bangun lagi, belajar lagi, coba lagi. Istilah kerennya failing forward.

Portofolio Kehidupan

Jika dulu krisis adalah suatu hal yang tidak normal, maka hari ini krisis sepertinya sudah menjadi normalitas baru. Bahkan akhir-akhir ini pelaku ekonomi mengenal istilah Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity (VUCA) satu istilah baru yang biasa digunakan oleh tentara Amerika yang menggambarkan suatu kondisi medan perang yang tidak bisa diprediksi. Kalaupun bisa diprediksi, maka akurasinya sangat kecil. VUCA itu sekarang , tidak hanya populer di dunia militer tapi juga sudah terkenal di kelangan pelaku ekonomi, bahkan dampaknya bisa dirasakan oleh individu secara langsung. Kejadian kemarin, beberapa negara di kawasan timur tengah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Qatar hanya diberi waktu 2 minggu untuk menarik duta besar mereka termasuk warga negara Qatar yang bekerja di negara-negara yang memutuskan hubungan diplomatik tersebut. Individu-indivdu yang dipulangkan ke Qatar bisa jadi mereka adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang penyebab 5 negara arab memutuskan hubungan diplomatik. Bahkan ada siswa asal Dubai yang sekolah di Qatar terancam tidak bisa mengikuti ujian karena mereka harus pulang ke negara asal. Masyarakat yang tinggal di Qatar pun panik.

Saya juga ingat, dalam satu diskusi santai di ruang kelas dengan teman kuliah yang bekerja sebagai supervisor di perusahaan minyak. Dia dulu memiliki staf sebanyak 15 orang dan kini hanya sisa 3 orang (supevisor, sopir dan admin) akibat harga minyak mentah dunia yang turun drastis. Padahal mereka yang kena PHK itu bukanlah orang-orang yang menyebabkan harga minyak turun.

Jika hidup dengan situasi seperti ini, sepertinya hidup hari ini selalu diharapkan pada probabilitas 50:50. Artinya kemungkinan gagal dan berhasil itu sama besarnya. Makanya akan lebih baik jika terus berusaha dan juga ikhlas. Ikhlas dalam arti melakukan ikhtiar dengan maksimal dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Man Proposes and God Disposes. Ikhlas juga berarti kita harus bisa menerima apapun hasil dari usaha kita dengan lapang dada. Saya tidak bisa membayangkan jika kita memperlakukan keberhasilan dan kegagalan itu sama, artinya jika kita berhasil maka kita sangat bahagia dan sebaliknya sangat sedih atau bahkan depresi jika kita menghadapi kegagalan. Jika kita mengambil sikap seperti itu, maka setengah portofolio hidup kita akan diisi dengan kesedihan. Lalu bagaimana kita bisa manage portofolio hidup kita?

To be honest, saya tidak tahu. Tapi saya belajar dari Shanum tentang porfolio hidup. Saya melihat video Shanum (cukup sering) yang dikirim oleh istri. Kenapa saya tertarik untuk melihat setiap video Shanum cukup sering karena selain kangen, melihat Shanum juga bisa menenangkan. Alasan lainnya karna saya juga sering mendapatkan hikmah dari video tersebut. Salah satu video yang dikirm oleh istri seminggu lalu. Video itu berdurasi 62 detik yang memperlihatkan bagaimana Shanum menangis lalu tersenyum. Saya mencoba mengasosiasikan durasi waktu dalam video tersebut sebagai portofolio hidup, yang diisi dengan beberapa situasi seperti sedih dan bahagia. Dari total durasi video 62 detik, Shanum mengalokasikan waktu sekitar 14 detik bersedih dan setelahnya dia memilih untuk bangun dan tersenyum kembali. Dari Shanum saya bisa belajar bahwa alokasi portofolio kehidupan itu bisa dirumuskan dengan sangat sederhana yaitu (sedih : bahagia x durasi waktu). Protofolio hidup Shanum dalam konteks sedih dan bahagia dapat dihitung (14 : 62 x 100) = 22.5%. artinya dari probabilitas keberhasilan dan kegagalan hidup 50:50, Shanum memutuskan bahwa hanya mengalokasikan waktu kesedihan sebesar 22,5% dan 77,5% kebahagiaan.

Jika shanum yang baru barusia 6 bulan saja bisa membuat alokasi portofolio hidup seperti itu, apalagi kami yang sudah cukup mengalami asam garam kehidupan, sudah sewajarnya jika bisa men-treat kegagalan itu sebagai hal yang biasa dan selalu berprinsip boleh gagal, belajar lagi dan coba lagi. Never asking for easy dan semoga kita selalu bisa mengalokasikan kebahagiaan lebih besar dalam portofolio kehidupan kita. Aamiin YRA.

UIGM Palembang.

June 7, 2017.

Kedamaian, Impian dan Orang Baik

“Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” (Al-Ma’idah 100)

Alhamdulillah hari ini diberi kesempatan berkunjung lagi ke kampus Fakultas Ekonomi (FE) Unsri Indralaya dalam rangka menemani adik yudisium. Dari segi sarana dan prasarana, FE Unsri sudah banyak mengalami perubahan. Mulai dari pembangunan gedung-gedung baru hingga berdirinya beberapa gazebo di sekitar lingkungan fakultas yang dilengkapi dengan wifi. Saya juga sempatkan diri berkunjung ke perpustakaan utama, dan ternyata perubahan yang terjadi di perpus jauh lebih mengejutkan daripada yang terjadi di FE. Di bagian lobi lantai dasar perpustakaan sudah sangat rapi dan tersedia satu ruangan besar yang bisa digunakan mahasiswa untuk mengakses internet secara gratis, juga ada meja untuk diskusi plus satu TV dan DVD player.

Lobi Perpustakaan Unsri Indralaya

Berkunjung ke kampus yang berjarak 32 km dari kota Palembang ini selalu memberi nuansa baru. Saya masih bisa merasakan atmosfir semangat belajar disini, menemukan kedamaian di ruang sunyi perpustakaan, diskusi bersama teman dan dosen tentang ekonomi dan kehidupan, berorganisasi, dan atau hanya sekedar berjalan mengelilingi lingkungan kampus nan asri. Dalam ketenangan itu, saya merasa menemukan momen terbaik untuk melakukan evaluasi sekaligus menulis mimpi-mimpi baru. Oleh karena itu, ketika menempuh pendidikan S1 disini, saya menulis beberapa impian yang ingin saya perjuangkan dalam hidup. Impian yang dahulu terlihat sulit, bahkan sangat sulit unuk digapai. Alhamdulillah kini beberapa sudah bisa diraih. Ketika ada kesempatan berkunjung ke kampus pada bulan Februari 2014 lalu, saya sempatkan menulis impian (kembali) untuk melanjutkan pendidikan jenjang master. Alhamdulillah saat saya berkunjung lagi ke FE Unsri hari ini, impian untuk menyelesaikan pendidikan tersebut sudah bisa diraih.

Impian (lagi), Ikhtiyar dan Do’a lagi

Hari ini 24 Mei 2017 di lobi perpustakaan utama Unsri Indralaya, saya menulis kembali tentang cita-cita yang belum terpikir untuk ditulis 10 tahun lalu yaitu melanjutkan pendidikan (lagi). Jujur waktu menempuh pendidikan S1, tidak pernah terbersit sedikitpun untuk mengambil langkah ini. Apalagi dalam proses perkuliahan saya masih sering kesulitan menangkap materi yang disampaikan dosen dengan baik. Jadi intinya saya sadar diri, konsekuensinya saya buat cita-cita yang bisa digapai oleh imajinasi saja waktu itu.  Ternyata imajinasi kita itu dinamis, tidak statis. Jadi kapanpun bisa berubah. Perubahan itu terjadi setelah saya diberi kesempatan untuk bekerja di beberapa perusahaan, diskusi dengan banyak orang tentang karir, kehidupan, dan takdir, akhirnya saya memutuskan bahwa melanjutkan belajar insha Allah akan menjadi jalan yang terbaik.

Jika diberi kesempatan, Insha Allah saya akan berkunjung lagi ke FE Unsri Indralaya tahun 2023 dengan sudah menggapai impian yang saya tulis hari ini yaitu melanjutkan pendidikan doktoral (kalau bisa di luar negeri). Kenapa harus di luar negeri? karena belajar di luar negeri juga bagian dari impian (yang belum terwujud), yang saya tulis setelah selesai upacara 17 Agustus di Lapangan Tikala kota Manado tahun 2010 lalu. Jika saya sudah berani menulisnya, berarti saya tahu konsekuensinya dan semoga saya bisa mewujudkannya. Aamiin YRA.

Bertemu Orang Baik

Sekitar jam 12.10 ada panggilan masuk dari Bapak, berarti acara yudisium sudah selesai dan kami harus pulang. Sebelum menuju Palembang, kami singgah di rumah makan pagi sore Indralaya. Selesai makan, kami sholat di mushola di samping rumah makan. Hampir semua tas kami bawa turun karena saya tidak mau kejadian setahun lalu terulang lagi. Meninggalkan tas di dalam mobil dan ternyata begitu saya kembali ke mobil, kaca mobil bagian belakang pecah dan tas saya ikut raib. Saya membawa tas turun untuk mengantisipasi agar tidak hilang tapi ketika saya membawa tas ke mushola, ternyata tas tersebut lupa saya bawa kembali saat pulang ke Palembang. Beruntung tas itu ditemukan oleh orang baik. Orang baik itu adalah ustaz Hidayat. Jadi saya tidak harus mengalami kehilangan tas untuk yang keempat kalinya.

Bersama Ustaz Hidayat

Di dalam tas ada lapop dan HP. Mungkin beliau melihat contact di HP tersebut dan mencari nama keluarga. Akhirnya beliau menghubungi kontak dengan nama ayah. Yup, saya menulis nama kontak mertua laki-laki dengan nama ayah. Jadi ustaz Hidayat menghubungi mertua saya, kemudian mertua menghubungi istri saya (yang kebetulan tidak ikut ke indralaya). Lalu, istri saya menghubungi ke HP saya yang lain. Alhasil, kami harus kembali lagi ke rumah makan pagi sore di Indralaya.

Ada beberapa hikmah yang bisa saya dapatkan dari perjalanan ke Indarlaya hari ini, antara lain:

  1. Visi besar orang tua. Kami menghadiri yudisium Agil, anggota keluarga kami yang paling kecil. Alhamdulillah, impian bapak untuk menguliahkan semua anak-anaknya sudah tercapai. Meskipun berat dan penuh pengorbanan. Allahuakbar.
  2. Selain masjid, rumah dan alam bebas, kampus adalah tempat yang damai dan menenangkan.
  3. Belajar untuk lebih hati-hati. Khususnya menjaga barang-barang yang saya bawa.
  4. Saya sudah menulis impian untuk melanjutkan study, artinya segala tindakan dan perbuatan saya insha Allah harus bermuara atau mendekatkan diri dengan cita-cita tersebut. Mungkin jalan ini bisa jadi panjang dan melelahkan tapi inilah yang dilakukan Bapak, ketika beliau bermimpi untuk menguliahkan anak-anaknya hingga lulus sarjana dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Intinya Bapak dan Mamak melakukan banyak pengorbanan untuk memastikan agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik.

Perpustakaan Unsri Indralaya

24 Mei 2017.

Ayah, Mengapa Mereka yang Lebih Peduli?

Dedicated to Shanum Audy Setiawan

Shanum Audy Setiawan

Cerita ini bagian dari proses perjuangan mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) dari salah satu universitas. Sudah menjadi standar bahwa setiap orang yang ingin melanjutkan studi jenjang doktoral harus mempersiapkan proposal penelitian. Saya juga melakukan hal yang sama. Saya masih ingat sekitar satu bulan lalu mulai bergerilia mengirim proposal ke universitas dengan modal nekat. Just do it, meskipun dengan kekurangan di sana sini. Pada proposal pertama, saya mencoba membuat rencana penelitian yang fokus pada rekomendasi kebijakan terkait pasar modal di Indonesia. Hal ini menarik minat saya karena beberapa alasan. Pertama, pasar modal sudah lahir di Indonesia sejak jaman Belanda tahun 1912, tetapi industri yang disinyalir sebagai industri keuangan tertua di Indonesia ini masih tertinggal jauh dibandingkan industri kuangan lain seperti perbankan, asuransi, dana pensiun dan pegadaian. Survey yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK) tahun 2013 menyebutkan literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal berada di posisi paling rendah pada level 3%. Kedua, secara partisipasi jumlah investor di pasar modal hanya sekitar 500.000 investor pada akhir tahun 2016. Angka itu relatif sama dengan jumlah investor pasar modal pada tahun 1993. Secara jumlah partisipasi investor memang sama, tetapi jika kita bandingkan dengan variabel lain seperti Gross Domestik Produk (GDP), income per capita, dan populasi yang terus tumbuh tentu hal ini menjadi suatu kemunduran.

Selain itu, jika membaca hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukcharoensin tahun 2013 menjelaskan bahwa pasar modal Indonesia masih kalah bersaing dari pasar modal negara lain di Asean seperti Singapura, Malaysia dan Thailand jika dilihat dari empat variabel pengukur perkembangan pasar modal yaitu akses, likuiditas, efisiensi dan ukuran. Beberapa alasan itu membuat saya optimis bahwa draft proposal penelitian saya akan disetujui oleh calon supervisor, atau paling tidak hanya dengan sekali interview mereka akan memberikan LOA. “Surat ajaib ini” sangat penting karena LOA menjadi salah satu syarat untuk melamar beasiswa.

Faktanya, apa yang saya pikirkan tidak sama dengan realitanya. Ternyata dugaan saya meleset dan jauh panggang dari api. Mendapatkan LOA tidak semudah yang saya bayangkan. Setelah calon supervisor membaca draft proposal penelitian, kami melakukan diskusi via Skype untuk memperjelas rencana penelitian yang akan dilakukan. Alih-alih beliau langsung menerima, bahkan ia menyarankan saya untuk melihat jauh ke belakang sebelum membuat suatu rekomendasi kebijakan. Ajakan untuk melihat kebelakang tiba-tiba mengingatkan saya dengan pesan Steve Job tentang connecting the dots. Meskipun awalnya saya sempat terlibat sedikit perdebatan dengan interviewer karena saya masih yakin bahwa membuat suatu kebijakan itu jauh lebih penting daripada harus mencari dan menyusun puzzle pasar modal Indonesia sejak jaman kolonial Belanda yang data-datanya kemungkinan besar tidak terdokumentasi di negeri ini.

Akhirnya, saya mencoba mengikuti nasehat sang Professor untuk melihat sejarah industri keuangan tertua di Indonesia ini. Proses mencari data perkembangan pasar modal Indonesia menjadi perjuangan yang cukup menarik. Mulai dari membaca jurnal terkait sejarah dan perkembangan pasar modal, hunting buku lawas terbitan tahun 1997 tentang pasar modal Indonesia karya Jasso Winarto, diskusi dengan teman yang bekerja di perusahaan sekuritas, korespondensi dengan kepala kantor perwakilan Indonesian Stock Exchange (IDX), dan karena kemajuan teknologi, memungkinkan saya untuk mengirim email dan pesan melalui media sosial ke beberapa ekonom dan pelaku pasar modal yang sering jadi pembicara di TV, termasuk mengirim email ke peneliti dari luar Indonesia. Finally, ada sekitar 10 orang yang saya hubungi sekaligus bertanya tentang sejarah pasar modal Indonesia. Dari beberapa orang yang saya hubungi, hanya 2 dari 8 orang Indonesia yang meresponse. Feedback dari mereka itu terasa melegakan meskipun dijawab dengan respon, maaf saya tidak tahu. Dan alhamdulillah 1 dari 2 orang asing yang saya hubungi via email menjawab dengan sangat cepat. Dari namanya ia seperti orang Belanda yang saat ini berprofesi sebagai asisten professor di Australia National University.

Ternyata bukan hanya respon beliau yang sangat cepat membuat saya kagum tapi caranya menjelaskan sejarah pasar modal Indonesia dengan begitu rinci dan terstrukturlah yang lebih membuat saya surprise sekaligus sedih. Surprise karena saya sadar bahwa ada orang asing yang begitu tertarik untuk memahami sejarah pasar modal Indonesia. Perasaan sedih timbul karena kenapa mereka (orang asing) yang lebih peduli, paham dan mau berbagi tentang sejarah pasar modal Indonesia.

Tak cukup meyakinkan saya dengan penjelasan saja, beliau juga mengirimkan beberapa data perusahaan Indonesia yang diperdagangkan di bursa efek Belanda yang dimuat di surat kabar Soerabaijasch Handelsblad tahun 1912. Plus satu jurnal tulisan beliau tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu 128 tahun. Normalnya jurnal itu dijual seharga $39,95 tapi saya dapatkan secara gratis. Katanya itu hadiah karena ada orang Indonesia yang tertarik untuk meneliti tentang sejarah pasar modal Indonesia.

Setelah membaca jurnal kirimannya, saya manjadi penasaran. Saya mencari di google guna melihat apakah ada orang Indonesia yang meneliti tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan periode lebih lama. Ternyata saya kembali terkejut (sekaligus sedih) karena hanya ada satu orang Indonesia yang terdeteksi oleh google yang meneliti tentang topik yang sama, itupun hanya kurun waktu tahun1980 hingga tahun 2000.

Kekaguman saya semakin bertambah, karena beliau mengizinkan untuk menggunakan data yang sudah beliau cari, kumpulkan, formulasikan dengan susah payah agar bisa digunakan untuk melengkapi revisi proposal penelitian saya.

Proses mendapatkan LOA ini mengajarkan saya tentang satu hikmah bahwa jika dalam proses pembuatan proposal penelitian ini saja sudah memberikan banyak pelajaran, apalagi jika diberi kesempatan untuk melakukan penelitian yang sesungguhnya tentang sejarah pasar modal Indonesia.

Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah berilah kesempatan hamba-Mu  yang bodoh ini untuk menyusun puzzle sejarah pasar modal Indonesia yang mungkin masih tersebar di belahan dunia lain. Aamiin YRA.

Note untuk Shanum: jika suatu hari nanti Shanum sudah bisa membaca, tolong lakukan tadabbur surat Al Alaq. Teruslah bertanya dan jika suatu hari nanti adek menemukan pertanyaan yang belum bisa terjawab, mungkin itu tanda bahwa Shanum harus mencari jawaban itu sendiri. Yakinlah bahwa Allah SWT maha tahu atas segalanya. As a father, I just wanna say that never asking for easy.

@ MM Unsri Palembang

Kerupuk Shanum

Kerupuk adalah makanan ringan yang seringkali menjadi “sahabat makan” dan digemari oleh masyarakat di banyak negara. Makanan yang pada umumnya dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur dengan ikan atau udang ini memiliki banyak nama. Orang Indonesia mengenalnya sebagai Kerupuk, di Malaysia disebut Keropok, orang Filipina dan Belanda menyebutkan sebagai Kropek dan Kroepoek. Masyarakat Inggris dan Amerika mengenalnya sebagai Fish Crackers. Pada umumnya, Kerupuk dikonsumsi sebagai makanan pelengkap maupun variasi dalam lauk pauk.

Menurut makalah yang ditulis Levent dan Bilgin tahun 2015 menjelaskan bahwa masyarakat Turki selalu menjadikan Kerupuk sebagai menu pelengkap yang dikonsumsi setiap hari oleh anak-anak berusia 5 tahun hingga orang tua yang berumur 70 tahun. Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri, Kerupuk tidak hanya dijadikan sebagai lauk pelengkap makan tetapi juga sebagai salah satu jenis perlombaan pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Lomba makan Kerupuk diyakini mampu mengajari kesederhaan dan kesetaraan. Lomba ini juga dianggap sebagai cerminan kesulitan pangan yang pernah dihadapi oleh para pejuang saat merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

 

Kerupuk Shanum merupakan agen penjual yang menyediakan berbagai macam jenis kerupuk, baik kerupuk mentah maupun kerupuk siap saji. Untuk memasarkan produknya, Kerupuk Shanum mempunyai toko yang berlokasi di Pasar Kuto Baru Palembang. Selain itu Kerupuk Shanum juga sudah menjalin kemitraan dengan beberapa pelanggan mulai dari warung rumahan, mini market dan pemilik catering. Saat ini Kerupuk Shanum sedang melebarkan strategi pemasaran dengan melakukan promosi secara massive di media sosial baik melalui platform marketplace Indonesia dan global seperti bukalapak, elevania, alibaba, amazon, dll.