Scholarship Mentorship Program 2018

REGISTRASI DIBUKA !!!!

KELAS EKSKLUSIF VSE: BIMBINGAN MELAMAR BEASISWA LUAR NEGERI
.
Hallo Palembang dan sekitarnya,
.
Apakah kamu berencana untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri dengan beasiswa namun bingung untuk memulainya dari mana?
.
Mendapat banyak pertanyaan dan permintaan tentang beasiswa pendidikan lanjut, kali ini Victory Sriwijaya Education (VSE) membuka kelas eksklusif untuk para calon penerima beasiswa bergengsi seperti AAS, Fulbright, LPDP, StunNed, dan beasiswa bergengsi lainnya.
.
Apa saja keuntungan mengikuti kelas ini? (1) Kamu akan dibimbing secara langsung dan intensif oleh Coach dan Global Scholars yang berpengalaman dan merupakan alumni/awardee beasiswa bergengsi. (2) 1 Kelas hanya terdiri dari 6 sampai 8 siswa (3) 8X Kelas bimbingan langsung secara intensif (snack dan minuman disediakan setiap pertemuan), (4) Kesempatan untuk terhubung secara langsung dengan Global Scholars VSE yang tersebar di berbagai belahan dunia, (5) Mendapatkan kesempatan konsultasi secara online (unlimited), (6) Luaran dari program : Pengisian formulir beasiswa yang lengkap, essay yang telah direvisi, CV/Resume dan berkas-berkas pendukung lainnya.
.
Modul yang kami tawarkan : (1) Pengenalan informasi beasiswa yang tersedia untuk pelamar dari Indonesia (2) Pengenalan tentang TOEFL dan IELTS (3) Memilih jurusan dan kampus (4) Penulisan essay (motivation letter, personal statement, dll), (5) Penulisan CV/Resume, (6) Proses online pendaftaran kampus, (7) Pengisian formulir applikasi beasiswa, (8) FGD, (9) Simulasi wawancara beasiswa, (10) Penulisan Proposal Penelitian, (11) Konsultasi online (skype) dengan Global Scholars (12) Pengecekan akhir applikasi beasiswa
.
Siapa yang bisa mengikuti kelas ini ? (1) Mahasiswa S1 minimal semester 6 ke atas, fresh graduate, pekerja atau professional lainnya, (2) Memiliki IPK minimal 3,00, (3) Memiliki nilai toefl min.500 atau IELTS 5.5 atau sejenisnya, prediction diperbolehkan dan (4) Memiliki motivasi yang kuat untuk melanjutkan pendidikan tinggi keluar negeri (5) Berkomitmen mengikuti program hingga selesai
.
Jika kamu memenuhi criteria diatas silahkan daftarkan dirimu melalui formulir online pada tautan berikut bit.ly/VSEBimbingan sebelum tanggal 25 January 2018 (Kelas dapat ditutup sewaktu-waktu jika kuota penuh). Tim akan menghubungi anda jika anda terpilih untuk mengikuti kelas ini.
.
Berapa biaya untuk mengikuti kelas ini? Kamu hanya perlu menginvestasikan Rp.1.500.000 (normal Rp. 2.500.000) untuk mengikuti kelas yang khusus untuk membimbing kamu untuk meraih beasiswa yang diimpikan.
.
Informasi lebih lanjut silahkan kontak kami melalui email victorysriwijayaeducation@gmail.com atau whatsapp 0821 7815 8505 dengan subject : VSE Exclusive Class 2018.

VSE Scholarship Mentorship Program

Program Mentorship Beasiswa 2018

.
#everyonecanstudyabroad #victorysriwijayaeducation #kelaspersiapanbeasiswa #informasibeasiswa #infopalembang #S2 #kuliahmaster #essay #researchproposal #scholarshipconsultation

Iklan

Ini adalah Permulaan..

Tulisan dari istri di hari yang penuh makna dan pembelajaran dalam hidup.

IMG-20170723-WA0001

Dear suamiku, imamku,

Hari ini, 14 september 2017 adalah kedua kalinya aku melihatmu menangis..

Hancur rasanya hatiku melihatnya..

Ingin rasanya aku ambil alih kesedihanmu dan aku simpan sendiri, namun aku hanya bisa memelukmu dan mengucapkan kalimat2 yang aku pikir bisa untuk menenangkanmu, sambil dlm hatiku berdoa agar Allah membantumu, hanya itu yg bisa aku lakukan..

Aku tau ini adalah keinginan terbesarmu saat ini, untuk kuliah lagi, agar nanti engkau bisa memperbaiki perekonomian kita dimasa depan..

Aku sangat bangga dengan impianmu itu, dengan semangatmu untuk mengubah masa depan kita, dengan ketekunanmu belajar dan belajar setiap hari, aku salut..

Bersabarlah suamiku, insha Allah Tuhan sudah menuliskan cerita indah dibalik cerita sedih hari ini..

Tetaplah berbaik sangka, dan tetaplah tegar dalam menghadapi cobaan Tuhan..

Ingatlah bahwa Tuhan tak tidur, dia selalu melihat usahamu, dan yakinlah suatu saat usahamu akan membuahkan hasil yg manis..

Aku, istrimu, akan selalu bersamamu, melewati masa-masa sulit disampingmu, mendukungmu, melindungimu dari dinginnya air mata..

Bersabarlah suamiku, ini bukanlah akhir dari perjuangan.. Ini adalah awal dimana Tuhan ingin melihat kesungguhanmu dalam meraih cita2..

Bersabarlah suamiku, percayalah suatu hari aku akan melihatmu berdiri di podium kehormatan untuk memberikan pidato kelulusan S3 disebuah universitas ternama di tanah eropa.. Percayalah..

I love u till Jannah, imamku..

 

Sent from my iPhone

Bapak isn’t a Dreamer

Bapak

Bapak is certainly more than a dreamer, He is an achiever

Saya mengambil foto ini secara diam-diam. Foto saat kedua orang tua memegang dan mengamati ijazah Agil (anak bungsu di keluarga kami) cukup lama. Saya percaya, beliau tidak ingin membaca satu persatu kata yang ada di setiap kalimat di selembar kertas itu. Tapi saya seperti merasakan bahwa Bapak sedang berimajinasi jauh, jauh sekali hingga saat pertama kali beliau bermimpi untuk memberi kesempatan dan mengawal perjalanan anak-anaknya agar bisa lulus di perguruan tinggi. Bapak tidak hanya seorang pemimpi yang sangat tangguh, tapi beliau adalah achiever. He is a dreamer and an achiever with immense value of perseverance and persistence.

Impiannya untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi seakan tidak bisa digantikan dengan apapun. His dream is inviolable. Tentu komitmen itu memiliki beberapa konsekuensi baik bagi dirinya dan kehidupan keluarga. Jika foto itu bisa saya ekstrak, mungkin akan bisa menghasilkan beberapa cerita yang tidak bisa saya lupakan sampai detik ini, antara lain:

  1. Bapak sempat berprofesi sebagai penarik becak saat saya masih kecil demi mencukupi kehidupan keluarga
  2. Jendela rumah kami tidak terpasang selama 15 tahun karena Bapak harus memprioritaskan biaya pendidikan daripada memperbaiki rumah. Sempat ada beberapa teman kantor Bapak yang berbaik hati, menawarkan diri untuk menjadi donatur agar jendela rumah kami bisa dipasang, tapi Bapak tetap tidak mau.
  3. Haburger, Pizza dan KFC menjadi makanan mewah bagi keluarga kami di bawah tahun 2000an.
  4. Sebagai alat transportasi, Bapak menggunakan motor pespa dan kami dibelikan sepeda bekas untuk pergi kesekolah
  5. Saya masih ingat ketika keinginan untuk membeli sandal merk “Ando” harus di trade off dengan sandal merk “Zando” seharga Rp.2.500 untuk dipakai di hari raya idul fitri tahun 1995. Sampai hari ini, saya masih ingat dengan sandal yang terbuat dari bahan busa dengan corak dua warna biru muda dan putih. Tinggi sandal itu kurang lebih 3 cm dengan selang warna putih mengitari bagian penjepit antara jari jempol dan telunjuk. Saat sandal itu basah menjadi sangat licin sekali.
  6. Suatu hari tahun 2000, saat menyambut tahun ajaran baru di sekolah. Saya bersama Bapak pergi ke toko sepatu di pasar 16 ilir Palembang. Saya tertarik sepatu merk “Kasogi” tapi yang kami bawa pulang adalah sepatu “kungfu” warna hitam tanpa tali J
  7. 3 hari menjelang lebaran tahun 2002, saya pergi ke toko sepatu “Idaman” di Pasaraya Megaria Palembang. Saya ingin sekali membeli sandal gunung merk Neckermann tapi sekali lagi belum bisa terwujud. Di saat yang bersamaan, saya melihat orang membeli sepatu “Reebok” seharga Rp.450.000,- dan saya menganggap orang itu “aneh” karena mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah alas kaki. Saat ini, virus keanehan orang yang membeli sepatu “mahal” itu sudah menyerang saya, bahkan berkali-kali.

Tapi “inti sari” dari foto itu adalah inspirasi kami (saya) untuk terus bermimpi, belajar dan sekolah sampai ke jenjang formal yang paling tinggi (suatu hari nanti). Aamiin YRA.

Palembang; August 1, 2017.

Shanum: Portofolio Kehidupan

Salah satu tugas terpenting seorang manajer investasi adalah mampu meramu portofolio investasi yang baik. Baik dalam arti bisa menghasilkan return yang maksimal dengan mempertimbangkan semua risiko yang ada. Tahun lalu, saat masih bekerja sebagai broker saham saya memiliki kesempatan untuk bertemu, diskusi dan belajar langsung tentang tugas dan tanggung jawab klien sebagai seorang manajer investasi. Dari beberapa job desk yang ada, yang paling penting dan yang paling sering mereka sharing adalah bagaimana mereka bisa menghasilkan return 9% dari dana yang mereka kelola. Jika saya bertanya pada orang tua yang berprofesi sebagai pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mencari keuntungan 9% per tahun insha Allah bukanlah perkara yang sulit. Tapi jika mencari imbal hasil 9% dari dana kelolaan ratusan miliar atau bahkan triliunan bisa jadi perkara yang sangat kompleks. Apalagi dewasa ini, mereka juga harus mempertimbangkan semua risiko baik internal dan risiko eksternal. Para pelaku pasar juga paham, bahwa dunia sudah semakin mengelobal. Konsekuensinya jika satu negara ada yang sakit, kemungkinan negara yang memiliki hubungan baik langsung maupun tidak langsung juga akan terkena dampaknya.

Krisis Amerika tahun 2007/2008 menjadi contoh nyata bagaimana dampak menular (contigious effect) itu ada. Waktu itu, sumber krisis berasal dari Amerika, tapi hampir seluruh dunia ikut terkena imbasnya. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menjadi acuan bagi pelaku indsutri pasar modal di Indonesia terjun bebas selama periode krisis subprime mortgage. Bagaimana negara lain? Tak perlu ditanya, sama saja. Mereka semua demam.

Kondisi Pasar Saham 5 Negara ASEAN

Lalu bagaimana agar bisa achieve target jika kondisi eksternal sangat mempengaruhi kinerja perusahaan bahkan individu?

Saya rasa jawaban itu akan sangat subjektif dan sulit dipastikan akurasi kebenarannya. Tapi saya suka dengan kata-kata CEO General Electrik (GE) Indonesia- Bang Handry Satriago- bahwa profesional yang sukses adalah mereka yang bisa deliver goals in uncertain situation. Mereka yang bisa melakukan itu juga bukan Tuhan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti untuk belajar. Kalau gagal, bangun lagi, belajar lagi, coba lagi. Istilah kerennya failing forward.

Portofolio Kehidupan

Jika dulu krisis adalah suatu hal yang tidak normal, maka hari ini krisis sepertinya sudah menjadi normalitas baru. Bahkan akhir-akhir ini pelaku ekonomi mengenal istilah Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity (VUCA) satu istilah baru yang biasa digunakan oleh tentara Amerika yang menggambarkan suatu kondisi medan perang yang tidak bisa diprediksi. Kalaupun bisa diprediksi, maka akurasinya sangat kecil. VUCA itu sekarang , tidak hanya populer di dunia militer tapi juga sudah terkenal di kelangan pelaku ekonomi, bahkan dampaknya bisa dirasakan oleh individu secara langsung. Kejadian kemarin, beberapa negara di kawasan timur tengah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Qatar hanya diberi waktu 2 minggu untuk menarik duta besar mereka termasuk warga negara Qatar yang bekerja di negara-negara yang memutuskan hubungan diplomatik tersebut. Individu-indivdu yang dipulangkan ke Qatar bisa jadi mereka adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang penyebab 5 negara arab memutuskan hubungan diplomatik. Bahkan ada siswa asal Dubai yang sekolah di Qatar terancam tidak bisa mengikuti ujian karena mereka harus pulang ke negara asal. Masyarakat yang tinggal di Qatar pun panik.

Saya juga ingat, dalam satu diskusi santai di ruang kelas dengan teman kuliah yang bekerja sebagai supervisor di perusahaan minyak. Dia dulu memiliki staf sebanyak 15 orang dan kini hanya sisa 3 orang (supevisor, sopir dan admin) akibat harga minyak mentah dunia yang turun drastis. Padahal mereka yang kena PHK itu bukanlah orang-orang yang menyebabkan harga minyak turun.

Jika hidup dengan situasi seperti ini, sepertinya hidup hari ini selalu diharapkan pada probabilitas 50:50. Artinya kemungkinan gagal dan berhasil itu sama besarnya. Makanya akan lebih baik jika terus berusaha dan juga ikhlas. Ikhlas dalam arti melakukan ikhtiar dengan maksimal dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Man Proposes and God Disposes. Ikhlas juga berarti kita harus bisa menerima apapun hasil dari usaha kita dengan lapang dada. Saya tidak bisa membayangkan jika kita memperlakukan keberhasilan dan kegagalan itu sama, artinya jika kita berhasil maka kita sangat bahagia dan sebaliknya sangat sedih atau bahkan depresi jika kita menghadapi kegagalan. Jika kita mengambil sikap seperti itu, maka setengah portofolio hidup kita akan diisi dengan kesedihan. Lalu bagaimana kita bisa manage portofolio hidup kita?

To be honest, saya tidak tahu. Tapi saya belajar dari Shanum tentang porfolio hidup. Saya melihat video Shanum (cukup sering) yang dikirim oleh istri. Kenapa saya tertarik untuk melihat setiap video Shanum cukup sering karena selain kangen, melihat Shanum juga bisa menenangkan. Alasan lainnya karna saya juga sering mendapatkan hikmah dari video tersebut. Salah satu video yang dikirm oleh istri seminggu lalu. Video itu berdurasi 62 detik yang memperlihatkan bagaimana Shanum menangis lalu tersenyum. Saya mencoba mengasosiasikan durasi waktu dalam video tersebut sebagai portofolio hidup, yang diisi dengan beberapa situasi seperti sedih dan bahagia. Dari total durasi video 62 detik, Shanum mengalokasikan waktu sekitar 14 detik bersedih dan setelahnya dia memilih untuk bangun dan tersenyum kembali. Dari Shanum saya bisa belajar bahwa alokasi portofolio kehidupan itu bisa dirumuskan dengan sangat sederhana yaitu (sedih : bahagia x durasi waktu). Protofolio hidup Shanum dalam konteks sedih dan bahagia dapat dihitung (14 : 62 x 100) = 22.5%. artinya dari probabilitas keberhasilan dan kegagalan hidup 50:50, Shanum memutuskan bahwa hanya mengalokasikan waktu kesedihan sebesar 22,5% dan 77,5% kebahagiaan.

Jika shanum yang baru barusia 6 bulan saja bisa membuat alokasi portofolio hidup seperti itu, apalagi kami yang sudah cukup mengalami asam garam kehidupan, sudah sewajarnya jika bisa men-treat kegagalan itu sebagai hal yang biasa dan selalu berprinsip boleh gagal, belajar lagi dan coba lagi. Never asking for easy dan semoga kita selalu bisa mengalokasikan kebahagiaan lebih besar dalam portofolio kehidupan kita. Aamiin YRA.

UIGM Palembang.

June 7, 2017.

Kedamaian, Impian dan Orang Baik

“Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” (Al-Ma’idah 100)

Alhamdulillah hari ini diberi kesempatan berkunjung lagi ke kampus Fakultas Ekonomi (FE) Unsri Indralaya dalam rangka menemani adik yudisium. Dari segi sarana dan prasarana, FE Unsri sudah banyak mengalami perubahan. Mulai dari pembangunan gedung-gedung baru hingga berdirinya beberapa gazebo di sekitar lingkungan fakultas yang dilengkapi dengan wifi. Saya juga sempatkan diri berkunjung ke perpustakaan utama, dan ternyata perubahan yang terjadi di perpus jauh lebih mengejutkan daripada yang terjadi di FE. Di bagian lobi lantai dasar perpustakaan sudah sangat rapi dan tersedia satu ruangan besar yang bisa digunakan mahasiswa untuk mengakses internet secara gratis, juga ada meja untuk diskusi plus satu TV dan DVD player.

Lobi Perpustakaan Unsri Indralaya

Berkunjung ke kampus yang berjarak 32 km dari kota Palembang ini selalu memberi nuansa baru. Saya masih bisa merasakan atmosfir semangat belajar disini, menemukan kedamaian di ruang sunyi perpustakaan, diskusi bersama teman dan dosen tentang ekonomi dan kehidupan, berorganisasi, dan atau hanya sekedar berjalan mengelilingi lingkungan kampus nan asri. Dalam ketenangan itu, saya merasa menemukan momen terbaik untuk melakukan evaluasi sekaligus menulis mimpi-mimpi baru. Oleh karena itu, ketika menempuh pendidikan S1 disini, saya menulis beberapa impian yang ingin saya perjuangkan dalam hidup. Impian yang dahulu terlihat sulit, bahkan sangat sulit unuk digapai. Alhamdulillah kini beberapa sudah bisa diraih. Ketika ada kesempatan berkunjung ke kampus pada bulan Februari 2014 lalu, saya sempatkan menulis impian (kembali) untuk melanjutkan pendidikan jenjang master. Alhamdulillah saat saya berkunjung lagi ke FE Unsri hari ini, impian untuk menyelesaikan pendidikan tersebut sudah bisa diraih.

Impian (lagi), Ikhtiyar dan Do’a lagi

Hari ini 24 Mei 2017 di lobi perpustakaan utama Unsri Indralaya, saya menulis kembali tentang cita-cita yang belum terpikir untuk ditulis 10 tahun lalu yaitu melanjutkan pendidikan (lagi). Jujur waktu menempuh pendidikan S1, tidak pernah terbersit sedikitpun untuk mengambil langkah ini. Apalagi dalam proses perkuliahan saya masih sering kesulitan menangkap materi yang disampaikan dosen dengan baik. Jadi intinya saya sadar diri, konsekuensinya saya buat cita-cita yang bisa digapai oleh imajinasi saja waktu itu.  Ternyata imajinasi kita itu dinamis, tidak statis. Jadi kapanpun bisa berubah. Perubahan itu terjadi setelah saya diberi kesempatan untuk bekerja di beberapa perusahaan, diskusi dengan banyak orang tentang karir, kehidupan, dan takdir, akhirnya saya memutuskan bahwa melanjutkan belajar insha Allah akan menjadi jalan yang terbaik.

Jika diberi kesempatan, Insha Allah saya akan berkunjung lagi ke FE Unsri Indralaya tahun 2023 dengan sudah menggapai impian yang saya tulis hari ini yaitu melanjutkan pendidikan doktoral (kalau bisa di luar negeri). Kenapa harus di luar negeri? karena belajar di luar negeri juga bagian dari impian (yang belum terwujud), yang saya tulis setelah selesai upacara 17 Agustus di Lapangan Tikala kota Manado tahun 2010 lalu. Jika saya sudah berani menulisnya, berarti saya tahu konsekuensinya dan semoga saya bisa mewujudkannya. Aamiin YRA.

Bertemu Orang Baik

Sekitar jam 12.10 ada panggilan masuk dari Bapak, berarti acara yudisium sudah selesai dan kami harus pulang. Sebelum menuju Palembang, kami singgah di rumah makan pagi sore Indralaya. Selesai makan, kami sholat di mushola di samping rumah makan. Hampir semua tas kami bawa turun karena saya tidak mau kejadian setahun lalu terulang lagi. Meninggalkan tas di dalam mobil dan ternyata begitu saya kembali ke mobil, kaca mobil bagian belakang pecah dan tas saya ikut raib. Saya membawa tas turun untuk mengantisipasi agar tidak hilang tapi ketika saya membawa tas ke mushola, ternyata tas tersebut lupa saya bawa kembali saat pulang ke Palembang. Beruntung tas itu ditemukan oleh orang baik. Orang baik itu adalah ustaz Hidayat. Jadi saya tidak harus mengalami kehilangan tas untuk yang keempat kalinya.

Bersama Ustaz Hidayat

Di dalam tas ada lapop dan HP. Mungkin beliau melihat contact di HP tersebut dan mencari nama keluarga. Akhirnya beliau menghubungi kontak dengan nama ayah. Yup, saya menulis nama kontak mertua laki-laki dengan nama ayah. Jadi ustaz Hidayat menghubungi mertua saya, kemudian mertua menghubungi istri saya (yang kebetulan tidak ikut ke indralaya). Lalu, istri saya menghubungi ke HP saya yang lain. Alhasil, kami harus kembali lagi ke rumah makan pagi sore di Indralaya.

Ada beberapa hikmah yang bisa saya dapatkan dari perjalanan ke Indarlaya hari ini, antara lain:

  1. Visi besar orang tua. Kami menghadiri yudisium Agil, anggota keluarga kami yang paling kecil. Alhamdulillah, impian bapak untuk menguliahkan semua anak-anaknya sudah tercapai. Meskipun berat dan penuh pengorbanan. Allahuakbar.
  2. Selain masjid, rumah dan alam bebas, kampus adalah tempat yang damai dan menenangkan.
  3. Belajar untuk lebih hati-hati. Khususnya menjaga barang-barang yang saya bawa.
  4. Saya sudah menulis impian untuk melanjutkan study, artinya segala tindakan dan perbuatan saya insha Allah harus bermuara atau mendekatkan diri dengan cita-cita tersebut. Mungkin jalan ini bisa jadi panjang dan melelahkan tapi inilah yang dilakukan Bapak, ketika beliau bermimpi untuk menguliahkan anak-anaknya hingga lulus sarjana dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Intinya Bapak dan Mamak melakukan banyak pengorbanan untuk memastikan agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang baik.

Perpustakaan Unsri Indralaya

24 Mei 2017.