Menembus Batas Paradigma Industri

Saya terjebak dalam persaingan dan pemahaman industri yang sangat sempit. Melihat industri dari sudut pandang kebanyakan orang. Saya langsung protes ketika salah satu tim menyebutkan lembaga kursus lain sebagai kompetitor kami. Bagi saya, kita tidak harus berkompetisi dengan organisasi lain tapi harus berjuang merealisasikan apa yang ada di imajinasi kita masing-masing serta berdampak sosial.

Menggeluti bisnis di bidang kursus bahasa, seakan menjadikan bahasa sebagai tujuan, artinya ketika semua pihak yang terlibat secara langsung sudah mencapai tujuannya masing-masing..Maka mereka akan bubar tanpa berfikir tentang kontribusi yang lebih luas. Dalam kacamata ini, benefit sepertinya hanya akan dirasakan oleh sebagian pihak saja, yaitu penyedia tempat kursus, teacher dan siswa itu sendiri.

Saya merasa, sudah saatnya kita keluar dari paradigma ini. Kemampuan bahasa bukan menjadi tujuan tapi alat. Alat untuk mencapai suatu tujuan yang lebih baik. Dengan kemampuan bahasa yang kita memiliki seharunya lembaga penyedia jasa kursus, teacher dan siswa bisa memfokuskan energinya untuk mulai menciptakan dampak bagi masyarakat. Batas akhir dari belajar bahasa bukan hanya sebatas peningkatan kemampuan akan bahasa itu sendiri tapi lebih pada bagaimana memaksimalkan pemanfaatan kemampuan bahasa yang kita miliki agar bisa berkontribusi untuk orang lain.

Paradigma baru itu harus diciptakan

Tim Victory Sriwijaya Education (VSE) belajar menembus batas paradigma indsutri itu. Hari Sabtu 12 May 2018, kami membuka VSE Internship Program. Kami mengundang 5 dari puluhan pendaftar untuk hadir dan melakukan diskusi langsung tentang bagaimana menembus batas paradigma industri. Memaksimalkan kemampuan bahasa yang kita miliki agar lebih berdampak luas bagi masyarakat. Setelah beberapa jam diskusi, akhirnya 2 dari peserta internship sudah berhasil membuat karya nyata.

Pertama, Reno bersama tim VSE, Cyborg IT Center dan koordinator komunitas marketplace chapter Palembang baru saja mengajukan proposal untuk mengikuti kompetisi guna mendapatkan Grant dari pemerintah Canada. Jika proposal ini disetujui, kami insha Allah akan memaksimalkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kota Palembang agar bisa memaksimal bisnis mereka.

VSE Grant Canada

Kedua, Ega bersama tim VSE dan Himpunan Pramuwisata kota Palembang mentransformasi ide seorang teman yang berprofesi sebagai dosen di Prancis menjadi kenyataan. Kami membuat VSE Summer Course 2018. Projek ini bertujuan untuk mempromosikan budaya, sejarah dan pariwisata kota Palembang kepada mahasiwa asing. Tahap pertama, teman yang di Prancis akan membantu mempromosikan pada murid-muridnya. Berikutnya, kami terfikir untuk memperluas Program VSE Summer Course melalui koneksi Global Scholar VSE yang tersebar di 5 benua di dunia. Aamiin.

VSE SUMMER COURSE 2018

What’s NEXT?

Rasanya ingin mengundang kembali anak-anak muda untuk belajar dan bertransformasi bersama kami. Intinya kita ingin menembus dan menciptakan batas-batas industri baru yang lebih berdampak bagi masyarakat. Berbahagialah dengan ambisimu 🙂

Victory Mengabdi

Victory Mengabdi adalah sebuah program dari Victory Sriwijaya Education (VSE) yang terinsprasi dari Gerakan Kelas Inspirasi. Melalui Victory Mengabdi, VSE mencoba untuk berkontribusi kepada masyarakat secara lebih luas. VSE merupakan lembaga pendidikan Bahasa Inggris dan Konsultasi Beasiswa yang fokus memberikan asistensi pada masyarakat agar bisa meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dan membantu persiapan belajar di luar negeri dengan menghubungkan langsung para peminat study luar negeri dengan para Global Scholars yang berpengalaman di dunia akademik di berbagai belahan dunia.

VSE didirkan oleh anak-anak muda yang secara akumulasi memiliki pengalaman internasional lebih dari 10 tahun, baik di bidang akademik maupun di multinasional company. Jika Sekolah, Universitas atau Organisasi Anda tertarik mengundang kami, tolong perhatikan beberapa hal berikut :

1. Topik apa yang bisa VSE bawakan?

a. Informasi seputar Beasiswa Luar Negeri

b. Informasi seputar Program Pertukaran Pemuda Antar Negara

c. Tips & Trik Bekerja di Multinasional Company (MNC)

d. Publikasi Ilmiah (Menulis untuk jurnal)

e. Topik lain sesuai kesepakatan bersama

2. Bagaimana Prosedur Mengundang?

Silahkan isi formulir pendaftaran melalui Google Form Victory Mengabdi, dan tolong kirimkan email konfirmasi ke victorysriwijayaeducation@gmail.com dengan Subject Email “Victory Mengabdi_Nama Organisasi_No HP”. Contoh Victory Mengabdi_SMP N 19 Palembang_08127652316.

3. Apa yang harus disiapkan oleh pengudang?

Guna keperluan presentasi, pengundang diharapkan bisa menyediakan LCD Proyektor.

4. Berapa biaya mengundang tim Victory Mengabdi?

Victory Mengabdi merupakan kegiatan yang bersifat sosial, sehingga kami tidak memungut biaya atas kegiatan tersebut.

5. Kapan waktu pelatihan akan dilakukan?

Program Victory Mengabdi dijadwalkan satu kali dalam sebulan. Kami akan mendahulukan pengundang yang lebih dahulu mendaftar.

6. Apakah pengundang bisa berasal dari luar kota Palembang?

Saat ini Victory Mengabdi fokus pada undangan yang berasal dari area kota Palembang. Namun, jika ada undangan dari kota lain, biasanya pengundang menyediakan biaya transportasi dan akomodasi.

Tertarik mengundang victory mengabdi, bisa KLIK DISINI

Ini adalah Permulaan..

Tulisan dari istri di hari yang penuh makna dan pembelajaran dalam hidup.

IMG-20170723-WA0001

Dear suamiku, imamku,

Hari ini, 14 september 2017 adalah kedua kalinya aku melihatmu menangis..

Hancur rasanya hatiku melihatnya..

Ingin rasanya aku ambil alih kesedihanmu dan aku simpan sendiri, namun aku hanya bisa memelukmu dan mengucapkan kalimat2 yang aku pikir bisa untuk menenangkanmu, sambil dlm hatiku berdoa agar Allah membantumu, hanya itu yg bisa aku lakukan..

Aku tau ini adalah keinginan terbesarmu saat ini, untuk kuliah lagi, agar nanti engkau bisa memperbaiki perekonomian kita dimasa depan..

Aku sangat bangga dengan impianmu itu, dengan semangatmu untuk mengubah masa depan kita, dengan ketekunanmu belajar dan belajar setiap hari, aku salut..

Bersabarlah suamiku, insha Allah Tuhan sudah menuliskan cerita indah dibalik cerita sedih hari ini..

Tetaplah berbaik sangka, dan tetaplah tegar dalam menghadapi cobaan Tuhan..

Ingatlah bahwa Tuhan tak tidur, dia selalu melihat usahamu, dan yakinlah suatu saat usahamu akan membuahkan hasil yg manis..

Aku, istrimu, akan selalu bersamamu, melewati masa-masa sulit disampingmu, mendukungmu, melindungimu dari dinginnya air mata..

Bersabarlah suamiku, ini bukanlah akhir dari perjuangan.. Ini adalah awal dimana Tuhan ingin melihat kesungguhanmu dalam meraih cita2..

Bersabarlah suamiku, percayalah suatu hari aku akan melihatmu berdiri di podium kehormatan untuk memberikan pidato kelulusan S3 disebuah universitas ternama di tanah eropa.. Percayalah..

I love u till Jannah, imamku..

 

Sent from my iPhone

Bapak isn’t a Dreamer

Bapak

Bapak is certainly more than a dreamer, He is an achiever

Saya mengambil foto ini secara diam-diam. Foto saat kedua orang tua memegang dan mengamati ijazah Agil (anak bungsu di keluarga kami) cukup lama. Saya percaya, beliau tidak ingin membaca satu persatu kata yang ada di setiap kalimat di selembar kertas itu. Tapi saya seperti merasakan bahwa Bapak sedang berimajinasi jauh, jauh sekali hingga saat pertama kali beliau bermimpi untuk memberi kesempatan dan mengawal perjalanan anak-anaknya agar bisa lulus di perguruan tinggi. Bapak tidak hanya seorang pemimpi yang sangat tangguh, tapi beliau adalah achiever. He is a dreamer and an achiever with immense value of perseverance and persistence.

Impiannya untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi seakan tidak bisa digantikan dengan apapun. His dream is inviolable. Tentu komitmen itu memiliki beberapa konsekuensi baik bagi dirinya dan kehidupan keluarga. Jika foto itu bisa saya ekstrak, mungkin akan bisa menghasilkan beberapa cerita yang tidak bisa saya lupakan sampai detik ini, antara lain:

  1. Bapak sempat berprofesi sebagai penarik becak saat saya masih kecil demi mencukupi kehidupan keluarga
  2. Jendela rumah kami tidak terpasang selama 15 tahun karena Bapak harus memprioritaskan biaya pendidikan daripada memperbaiki rumah. Sempat ada beberapa teman kantor Bapak yang berbaik hati, menawarkan diri untuk menjadi donatur agar jendela rumah kami bisa dipasang, tapi Bapak tetap tidak mau.
  3. Haburger, Pizza dan KFC menjadi makanan mewah bagi keluarga kami di bawah tahun 2000an.
  4. Sebagai alat transportasi, Bapak menggunakan motor pespa dan kami dibelikan sepeda bekas untuk pergi kesekolah
  5. Saya masih ingat ketika keinginan untuk membeli sandal merk “Ando” harus di trade off dengan sandal merk “Zando” seharga Rp.2.500 untuk dipakai di hari raya idul fitri tahun 1995. Sampai hari ini, saya masih ingat dengan sandal yang terbuat dari bahan busa dengan corak dua warna biru muda dan putih. Tinggi sandal itu kurang lebih 3 cm dengan selang warna putih mengitari bagian penjepit antara jari jempol dan telunjuk. Saat sandal itu basah menjadi sangat licin sekali.
  6. Suatu hari tahun 2000, saat menyambut tahun ajaran baru di sekolah. Saya bersama Bapak pergi ke toko sepatu di pasar 16 ilir Palembang. Saya tertarik sepatu merk “Kasogi” tapi yang kami bawa pulang adalah sepatu “kungfu” warna hitam tanpa tali J
  7. 3 hari menjelang lebaran tahun 2002, saya pergi ke toko sepatu “Idaman” di Pasaraya Megaria Palembang. Saya ingin sekali membeli sandal gunung merk Neckermann tapi sekali lagi belum bisa terwujud. Di saat yang bersamaan, saya melihat orang membeli sepatu “Reebok” seharga Rp.450.000,- dan saya menganggap orang itu “aneh” karena mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah alas kaki. Saat ini, virus keanehan orang yang membeli sepatu “mahal” itu sudah menyerang saya, bahkan berkali-kali.

Tapi “inti sari” dari foto itu adalah inspirasi kami (saya) untuk terus bermimpi, belajar dan sekolah sampai ke jenjang formal yang paling tinggi (suatu hari nanti). Aamiin YRA.

Palembang; August 1, 2017.

Shanum: Portofolio Kehidupan

Salah satu tugas terpenting seorang manajer investasi adalah mampu meramu portofolio investasi yang baik. Baik dalam arti bisa menghasilkan return yang maksimal dengan mempertimbangkan semua risiko yang ada. Tahun lalu, saat masih bekerja sebagai broker saham saya memiliki kesempatan untuk bertemu, diskusi dan belajar langsung tentang tugas dan tanggung jawab klien sebagai seorang manajer investasi. Dari beberapa job desk yang ada, yang paling penting dan yang paling sering mereka sharing adalah bagaimana mereka bisa menghasilkan return 9% dari dana yang mereka kelola. Jika saya bertanya pada orang tua yang berprofesi sebagai pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mencari keuntungan 9% per tahun insha Allah bukanlah perkara yang sulit. Tapi jika mencari imbal hasil 9% dari dana kelolaan ratusan miliar atau bahkan triliunan bisa jadi perkara yang sangat kompleks. Apalagi dewasa ini, mereka juga harus mempertimbangkan semua risiko baik internal dan risiko eksternal. Para pelaku pasar juga paham, bahwa dunia sudah semakin mengelobal. Konsekuensinya jika satu negara ada yang sakit, kemungkinan negara yang memiliki hubungan baik langsung maupun tidak langsung juga akan terkena dampaknya.

Krisis Amerika tahun 2007/2008 menjadi contoh nyata bagaimana dampak menular (contigious effect) itu ada. Waktu itu, sumber krisis berasal dari Amerika, tapi hampir seluruh dunia ikut terkena imbasnya. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menjadi acuan bagi pelaku indsutri pasar modal di Indonesia terjun bebas selama periode krisis subprime mortgage. Bagaimana negara lain? Tak perlu ditanya, sama saja. Mereka semua demam.

Kondisi Pasar Saham 5 Negara ASEAN

Lalu bagaimana agar bisa achieve target jika kondisi eksternal sangat mempengaruhi kinerja perusahaan bahkan individu?

Saya rasa jawaban itu akan sangat subjektif dan sulit dipastikan akurasi kebenarannya. Tapi saya suka dengan kata-kata CEO General Electrik (GE) Indonesia- Bang Handry Satriago- bahwa profesional yang sukses adalah mereka yang bisa deliver goals in uncertain situation. Mereka yang bisa melakukan itu juga bukan Tuhan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti untuk belajar. Kalau gagal, bangun lagi, belajar lagi, coba lagi. Istilah kerennya failing forward.

Portofolio Kehidupan

Jika dulu krisis adalah suatu hal yang tidak normal, maka hari ini krisis sepertinya sudah menjadi normalitas baru. Bahkan akhir-akhir ini pelaku ekonomi mengenal istilah Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity (VUCA) satu istilah baru yang biasa digunakan oleh tentara Amerika yang menggambarkan suatu kondisi medan perang yang tidak bisa diprediksi. Kalaupun bisa diprediksi, maka akurasinya sangat kecil. VUCA itu sekarang , tidak hanya populer di dunia militer tapi juga sudah terkenal di kelangan pelaku ekonomi, bahkan dampaknya bisa dirasakan oleh individu secara langsung. Kejadian kemarin, beberapa negara di kawasan timur tengah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Qatar hanya diberi waktu 2 minggu untuk menarik duta besar mereka termasuk warga negara Qatar yang bekerja di negara-negara yang memutuskan hubungan diplomatik tersebut. Individu-indivdu yang dipulangkan ke Qatar bisa jadi mereka adalah orang-orang yang tidak tahu menahu tentang penyebab 5 negara arab memutuskan hubungan diplomatik. Bahkan ada siswa asal Dubai yang sekolah di Qatar terancam tidak bisa mengikuti ujian karena mereka harus pulang ke negara asal. Masyarakat yang tinggal di Qatar pun panik.

Saya juga ingat, dalam satu diskusi santai di ruang kelas dengan teman kuliah yang bekerja sebagai supervisor di perusahaan minyak. Dia dulu memiliki staf sebanyak 15 orang dan kini hanya sisa 3 orang (supevisor, sopir dan admin) akibat harga minyak mentah dunia yang turun drastis. Padahal mereka yang kena PHK itu bukanlah orang-orang yang menyebabkan harga minyak turun.

Jika hidup dengan situasi seperti ini, sepertinya hidup hari ini selalu diharapkan pada probabilitas 50:50. Artinya kemungkinan gagal dan berhasil itu sama besarnya. Makanya akan lebih baik jika terus berusaha dan juga ikhlas. Ikhlas dalam arti melakukan ikhtiar dengan maksimal dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Man Proposes and God Disposes. Ikhlas juga berarti kita harus bisa menerima apapun hasil dari usaha kita dengan lapang dada. Saya tidak bisa membayangkan jika kita memperlakukan keberhasilan dan kegagalan itu sama, artinya jika kita berhasil maka kita sangat bahagia dan sebaliknya sangat sedih atau bahkan depresi jika kita menghadapi kegagalan. Jika kita mengambil sikap seperti itu, maka setengah portofolio hidup kita akan diisi dengan kesedihan. Lalu bagaimana kita bisa manage portofolio hidup kita?

To be honest, saya tidak tahu. Tapi saya belajar dari Shanum tentang porfolio hidup. Saya melihat video Shanum (cukup sering) yang dikirim oleh istri. Kenapa saya tertarik untuk melihat setiap video Shanum cukup sering karena selain kangen, melihat Shanum juga bisa menenangkan. Alasan lainnya karna saya juga sering mendapatkan hikmah dari video tersebut. Salah satu video yang dikirm oleh istri seminggu lalu. Video itu berdurasi 62 detik yang memperlihatkan bagaimana Shanum menangis lalu tersenyum. Saya mencoba mengasosiasikan durasi waktu dalam video tersebut sebagai portofolio hidup, yang diisi dengan beberapa situasi seperti sedih dan bahagia. Dari total durasi video 62 detik, Shanum mengalokasikan waktu sekitar 14 detik bersedih dan setelahnya dia memilih untuk bangun dan tersenyum kembali. Dari Shanum saya bisa belajar bahwa alokasi portofolio kehidupan itu bisa dirumuskan dengan sangat sederhana yaitu (sedih : bahagia x durasi waktu). Protofolio hidup Shanum dalam konteks sedih dan bahagia dapat dihitung (14 : 62 x 100) = 22.5%. artinya dari probabilitas keberhasilan dan kegagalan hidup 50:50, Shanum memutuskan bahwa hanya mengalokasikan waktu kesedihan sebesar 22,5% dan 77,5% kebahagiaan.

Jika shanum yang baru barusia 6 bulan saja bisa membuat alokasi portofolio hidup seperti itu, apalagi kami yang sudah cukup mengalami asam garam kehidupan, sudah sewajarnya jika bisa men-treat kegagalan itu sebagai hal yang biasa dan selalu berprinsip boleh gagal, belajar lagi dan coba lagi. Never asking for easy dan semoga kita selalu bisa mengalokasikan kebahagiaan lebih besar dalam portofolio kehidupan kita. Aamiin YRA.

UIGM Palembang.

June 7, 2017.