Ayah, Mengapa Mereka yang Lebih Peduli?

Dedicated to Shanum Audy Setiawan

Shanum Audy Setiawan

Cerita ini bagian dari proses perjuangan mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) dari salah satu universitas. Sudah menjadi standar bahwa setiap orang yang ingin melanjutkan studi jenjang doktoral harus mempersiapkan proposal penelitian. Saya juga melakukan hal yang sama. Saya masih ingat sekitar satu bulan lalu mulai bergerilia mengirim proposal ke universitas dengan modal nekat. Just do it, meskipun dengan kekurangan di sana sini. Pada proposal pertama, saya mencoba membuat rencana penelitian yang fokus pada rekomendasi kebijakan terkait pasar modal di Indonesia. Hal ini menarik minat saya karena beberapa alasan. Pertama, pasar modal sudah lahir di Indonesia sejak jaman Belanda tahun 1912, tetapi industri yang disinyalir sebagai industri keuangan tertua di Indonesia ini masih tertinggal jauh dibandingkan industri kuangan lain seperti perbankan, asuransi, dana pensiun dan pegadaian. Survey yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK) tahun 2013 menyebutkan literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal berada di posisi paling rendah pada level 3%. Kedua, secara partisipasi jumlah investor di pasar modal hanya sekitar 500.000 investor pada akhir tahun 2016. Angka itu relatif sama dengan jumlah investor pasar modal pada tahun 1993. Secara jumlah partisipasi investor memang sama, tetapi jika kita bandingkan dengan variabel lain seperti Gross Domestik Produk (GDP), income per capita, dan populasi yang terus tumbuh tentu hal ini menjadi suatu kemunduran.

Selain itu, jika membaca hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukcharoensin tahun 2013 menjelaskan bahwa pasar modal Indonesia masih kalah bersaing dari pasar modal negara lain di Asean seperti Singapura, Malaysia dan Thailand jika dilihat dari empat variabel pengukur perkembangan pasar modal yaitu akses, likuiditas, efisiensi dan ukuran. Beberapa alasan itu membuat saya optimis bahwa draft proposal penelitian saya akan disetujui oleh calon supervisor, atau paling tidak hanya dengan sekali interview mereka akan memberikan LOA. “Surat ajaib ini” sangat penting karena LOA menjadi salah satu syarat untuk melamar beasiswa.

Faktanya, apa yang saya pikirkan tidak sama dengan realitanya. Ternyata dugaan saya meleset dan jauh panggang dari api. Mendapatkan LOA tidak semudah yang saya bayangkan. Setelah calon supervisor membaca draft proposal penelitian, kami melakukan diskusi via Skype untuk memperjelas rencana penelitian yang akan dilakukan. Alih-alih beliau langsung menerima, bahkan ia menyarankan saya untuk melihat jauh ke belakang sebelum membuat suatu rekomendasi kebijakan. Ajakan untuk melihat kebelakang tiba-tiba mengingatkan saya dengan pesan Steve Job tentang connecting the dots. Meskipun awalnya saya sempat terlibat sedikit perdebatan dengan interviewer karena saya masih yakin bahwa membuat suatu kebijakan itu jauh lebih penting daripada harus mencari dan menyusun puzzle pasar modal Indonesia sejak jaman kolonial Belanda yang data-datanya kemungkinan besar tidak terdokumentasi di negeri ini.

Akhirnya, saya mencoba mengikuti nasehat sang Professor untuk melihat sejarah industri keuangan tertua di Indonesia ini. Proses mencari data perkembangan pasar modal Indonesia menjadi perjuangan yang cukup menarik. Mulai dari membaca jurnal terkait sejarah dan perkembangan pasar modal, hunting buku lawas terbitan tahun 1997 tentang pasar modal Indonesia karya Jasso Winarto, diskusi dengan teman yang bekerja di perusahaan sekuritas, korespondensi dengan kepala kantor perwakilan Indonesian Stock Exchange (IDX), dan karena kemajuan teknologi, memungkinkan saya untuk mengirim email dan pesan melalui media sosial ke beberapa ekonom dan pelaku pasar modal yang sering jadi pembicara di TV, termasuk mengirim email ke peneliti dari luar Indonesia. Finally, ada sekitar 10 orang yang saya hubungi sekaligus bertanya tentang sejarah pasar modal Indonesia. Dari beberapa orang yang saya hubungi, hanya 2 dari 8 orang Indonesia yang meresponse. Feedback dari mereka itu terasa melegakan meskipun dijawab dengan respon, maaf saya tidak tahu. Dan alhamdulillah 1 dari 2 orang asing yang saya hubungi via email menjawab dengan sangat cepat. Dari namanya ia seperti orang Belanda yang saat ini berprofesi sebagai asisten professor di Australia National University.

Ternyata bukan hanya respon beliau yang sangat cepat membuat saya kagum tapi caranya menjelaskan sejarah pasar modal Indonesia dengan begitu rinci dan terstrukturlah yang lebih membuat saya surprise sekaligus sedih. Surprise karena saya sadar bahwa ada orang asing yang begitu tertarik untuk memahami sejarah pasar modal Indonesia. Perasaan sedih timbul karena kenapa mereka (orang asing) yang lebih peduli, paham dan mau berbagi tentang sejarah pasar modal Indonesia.

Tak cukup meyakinkan saya dengan penjelasan saja, beliau juga mengirimkan beberapa data perusahaan Indonesia yang diperdagangkan di bursa efek Belanda yang dimuat di surat kabar Soerabaijasch Handelsblad tahun 1912. Plus satu jurnal tulisan beliau tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu 128 tahun. Normalnya jurnal itu dijual seharga $39,95 tapi saya dapatkan secara gratis. Katanya itu hadiah karena ada orang Indonesia yang tertarik untuk meneliti tentang sejarah pasar modal Indonesia.

Setelah membaca jurnal kirimannya, saya manjadi penasaran. Saya mencari di google guna melihat apakah ada orang Indonesia yang meneliti tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan periode lebih lama. Ternyata saya kembali terkejut (sekaligus sedih) karena hanya ada satu orang Indonesia yang terdeteksi oleh google yang meneliti tentang topik yang sama, itupun hanya kurun waktu tahun1980 hingga tahun 2000.

Kekaguman saya semakin bertambah, karena beliau mengizinkan untuk menggunakan data yang sudah beliau cari, kumpulkan, formulasikan dengan susah payah agar bisa digunakan untuk melengkapi revisi proposal penelitian saya.

Proses mendapatkan LOA ini mengajarkan saya tentang satu hikmah bahwa jika dalam proses pembuatan proposal penelitian ini saja sudah memberikan banyak pelajaran, apalagi jika diberi kesempatan untuk melakukan penelitian yang sesungguhnya tentang sejarah pasar modal Indonesia.

Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah berilah kesempatan hamba-Mu  yang bodoh ini untuk menyusun puzzle sejarah pasar modal Indonesia yang mungkin masih tersebar di belahan dunia lain. Aamiin YRA.

Note untuk Shanum: jika suatu hari nanti Shanum sudah bisa membaca, tolong lakukan tadabbur surat Al Alaq. Teruslah bertanya dan jika suatu hari nanti adek menemukan pertanyaan yang belum bisa terjawab, mungkin itu tanda bahwa Shanum harus mencari jawaban itu sendiri. Yakinlah bahwa Allah SWT maha tahu atas segalanya. As a father, I just wanna say that never asking for easy.

@ MM Unsri Palembang

Iklan

Shanum: Email and Exponential Growth of Population

email-shanum

Saya teringat dengan pengalaman sekitar akhir tahun 2004, waktu itu pihak sekolah meminta biodata siswa yang akan digunakan sebagai database alumni, lengkap dengan alamat email. Anyway peristiwa di sekolah 12 tahun lalu merupakan perkenalan pertama saya dengan email. Sama seperti siswa pada umumnya, saya juga berharap bisa menggunakan nama sendiri sebagai alamat email, tapi hal itu tidak bisa diwujudkan karena akun budisetiawan@gmail.com, budi.setiawan@gmail.com, dan setiawanbudi@gmail.com (termasuk yahoo dan hotmail) sudah digunakan oleh orang lain. Alhasil saya menggunakan nama lain untuk akun email, tentunya dengan tidak mencantumkan nama lengkap saya di alamat email pribadi.

Belajar dari pengalaman itu, hari ini saya membuat akun email untuk Shanum di usianya yang belum genap sebulan. Membuat alamat email untuk anak yang baru lahir bisa jadi bukan sesuatu hal yang lumrah di tengah masyarakat kita, tapi saya sebagai orang tua merasa mempunyai tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depan Shanum. Termasuk untuk hal yang paling simple sekalipun, membuatkannya email. Saya tidak menunda create new email untuk Shanum karena beberapa pertimbangan. Pertama, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran yang cukup tinggi di dunia, rata-rata 1,49% per tahun. Jangan lihat 1,49%-nya tapi coba kita lihat faktor pengalinya yaitu jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 255 juta jiwa.  Menurut data BPS dari Januari hingga akhir tahun 2015, jumlah bayi yang lahir di Indonesia menyentuh angka 4.880.951 orang. Artinya angka itu akan menjadi lebih dari 48 juta dalam 10 tahun mendatang. Misalnya 50% dari jumlah tersebut adalah bayi perempuan, maka ada sekitar 24 juta bayi perempuan yang akan lahir di Indonesia dalam 10 tahun ke depan. So kemungkinan nama Shanum untuk digunakan adalah 1 berbanding 24 juta. Kedua, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2016, ada 132 juta orang Indonesia yang sudah terhubung dengan internet.  Ketiga, saya dan istri berharap bisa mendokumentasikan apapun yang berhubungan dengan Shanum. Pertumbuhan Shanum dari hari ke hari, kebiasan-kebiasan dia sejak lahir, termasuk rencana-rencana yang akan kami lakukan beberapa tahun mendatang juga akan kami kirim ke email Shanum. Termasuk mengupdate perjuangan ayahnya yang sedang berjibaku untuk mendapatkan beasiswa :).

Selain alasan di atas, jika kita bicara dalam spectrum yang lebih luas yaitu populasi global. Saya teringat dengan pesan yang disampaikan oleh Pak Gita Wirjawan dalam Indonesia Economic Forum 2016 bulan November lalu. Mantan menteri perdagangan itu menyebutkan bahwa diperlukan waktu sekitar 1000 tahun untuk mencapai jumlah penduduk sebanyak 1 miliar pertama di planet ini, itu terjadi pada tahun 800an. Penambahan 1 miliar berikutnya, yaitu jumlah penduduk dari 1 miliar menjadi 2 miliar hanya diperlukan waktu 120 tahun, terjadi sekitar tahun 910an. Setiap peningkatan 1 miliar jumlah penduduk di dunia tiap tahunnya, membutuhkan waktu yang lebih singkat. Data terakhir yang beliau sampaikan adalah hanya diperlukan waktu sekitar 13 tahun untuk mencapai jumlah penduduk 7 miliar seperti saat ini. Hal itu memberi gambaran kepada kita bahwa populasi global tumbuh dengan sangat cepat (the world faces exponential growth of population) dan tentu saja diikuti dengan jumlah nama-nama baru.

Well pada saatnya nanti, ketika Shanum ingin membuat email untuk pertama kalinya. Setidaknya dia tidak perlu merasakan apa yang ayahnya alami saat namanya tidak bisa digunakan untuk akun email pribadinya karena sudah digunakan oleh orang lain. Anyway membuat email adalah suatu hal yang sangat mudah tapi hal ini mungkin saja akan menjadi hadiah yang cukup berharga bagi anak kita. Apalagi saat mereka membaca inbox di email tersebut ada rekam perjalanan dirinya sejak lahir (termasuk video saat ayahnya mengumandangkan azan di telinga Shanum) dan rajutan perjuangan yang dilakukan oleh ayah dan bundanya untuk kebaikan Shanum di masa depan, Insha Allah. Semoga Shanum juga bisa mengerti bahwa kami selaku orang tua sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi Shanum dalam hal apapun. We love you so much Shanum Audy Setiawan.

Palembang; December 18, 2016.

 

Pelajaran Pertama dari Shanum

He knows what is (presently) before them and what will be after them, and they encompass not a thing of His knowledge except for what He wills (Al-Baqarah; 255).

bermain-bersama-shanum

Sejak kelahiran Shanum tanggal 3 Desember lalu, saya dan istri mencoba membuat pattern terkait sleeping cycle. Setelah melakukan observasi selama 8 hari, kami mendapat temporary conclusion bahwa Shanum tidur selama 2 jam per sekali tidur. Lalu bangun karena lapar atau buang air dan setelah itu tidur lagi selama 2 jam, dan begitu seterusnya. Kebiasaan tidur menjadi variabel pertama yang kami amati karena ini  mempunyai multiplier effecs dan pengaruh ke beberapa variabel lain seperti mengatur jadwal tidur kami, waktu kami belajar, keluar rumah dan kembali lagi ke rumah dalam rentan waktu 2 jam, termasuk membuat dan mengantar susu ke kamar mertua setiap 2 jam sekali saat istri sedang sakit dan tidak bisa merawat Shanum di malam hari.

Mempelajari pola tidur Shanum selama 8 hari membuat pikiran saya terasosiasi pada moving average 8 hari. Moving average merupakan salah satu jenis analisa teknikal yang sering digunakan pelaku pasar untuk memprediksi harga saham. Para technical analyst membuat berbagai macam pendekatan seperti fibonanci, moving average convergence divergence, relative strength index, stochastic dan lain-lain. Intinya mereka menggunakan historical price untuk membuat pola dalam rentan periode waktu tertentu dan menggunakannya untuk memprediksi harga saham.

Pada observasi di hari ke 9, tiba-tiba pola tidur Shanum berubah. Deviasi dari Shanum’s sleeping pattern mulai terlihat. Ia tidak lagi tidur setiap 2 jam tapi justru mengajak bermain selama 2 jam setelah ia bangun dari tidur. Malam ini contohnya, kami bermain dengan Shanum dari pukul 12 a.m sampai 2 a.m. Pola tidurnya yang berubah dan tanpa adanya antisipasi dari kami atas perubahan tersebut, tentu menciptakan impact tersendiri bagi kami. Hal yang relatif sama juga dialami oleh pelaku pasar saham. Para penganut teknikal sudah paham betul bahwa pendekatan pola masa lalu tidak selalu menghasilkan ramalan yang selalu menguntungkan tapi tak jarang juga membawa ke jurang kerugian. Oleh karena itu mereka menggunakan beberapa approaches untuk memprediksi harga saham guna meminimalisir error dalam melakukan peramalan.

Malam ini Shanum memberi kami pelajaran pertamanya tentang uncertainty dan unpredictable change. Terima kasih baby Shanum, buah hati sekaligus guru kecil kami atas pelajaran yang adik berikan malam ini. Menemanimu bermain selama hampir 2 jam, meskipun dengan mata setengah terpejam. Sepertinya seimbang dengan apa yang sudah Shanum ajarkan kepada kami. Terima kasih ya nak.

Mari kita tidur nak dan bermain lagi esok hari, insha Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baru lagi. Aamiin YRA.

Palembang; 12 Desember 2016.